Mamuju, nuansainfo.com – Halaman rumah yang teduh di pelosok Tommo, Mamuju, itu sesekali riuh oleh diskusi hangat. Di sana, Muhammad Ansyari duduk melingkar bersama warga, mendengarkan berbagai keluh kesah yang selama ini sering kali hanya menguap di batas cakrawala. Bagi Ansyari, ini bukan sekadar silaturahmi politik, melainkan penegasan atas tekadnya untuk maju dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) di Desa Kalepu.

Nama Ansyari memang bukan orang asing bagi masyarakat Mamuju. Lulusan Ilmu Pemerintahan di Makassar ini ditempa oleh kerasnya dunia aktivisme melalui organisasi Hipermaju. Pengalamannya memimpin Yayasan Marandang Sulawesi Barat yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan kian mematangkan visinya tentang pentingnya pengabdian nyata bagi masyarakat luas.

Ansyari menyadari, Desa Kalepu menyimpan potensi besar yang selama ini belum tergarap optimal. Ia mengusung visi “Kalepu Maju dan Sejahterah”, sebuah program yang fokus pada transparansi anggaran dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Baginya, desa tidak boleh lagi hanya menjadi objek administratif yang menunggu instruksi, melainkan harus menjadi subjek yang mandiri secara ekonomi.

Membangun desa tidak bisa dengan gaya instruksional dari atas ke bawah. Saya ingin warga Kalepu menjadi arsitek bagi masa depan mereka sendiri,” ujar Ansyari mantap. Di mata keluarga dan kerabat, ia adalah sosok gigih yang mampu menjadi jembatan bagi desa untuk berkomunikasi dengan pemerintah tingkat kabupaten hingga provinsi demi percepatan pembangunan.

Menjelang pemungutan suara pada 1 Juni 2026 nanti, Ansyari terus bergerak dari pintu ke pintu tanpa membawa janji-janji muluk. Baginya, menjadi kepala desa adalah wujud pengabdian untuk pulang kampung dan membenahi rumah sendiri. Kehadirannya kini mulai memantik harapan baru, terutama bagi anak muda yang mendambakan perubahan tata kelola desa yang lebih terbuka dan berpihak pada rakyat kecil

By Adhie