Mamuju, nuansainfo.com – Aula Kantor Bupati Mamuju Tengah, Selasa siang, 23 Juni 2026, itu riuh rendah oleh diskusi tentang masa depan birokrasi. Di hadapan jajaran kepala dinas dan petinggi Badan Kepegawaian Negara (BKN), Bupati Mamuju Tengah, Arsal Aras, menggarisbawahi satu kata kunci: meritokrasi.
Sosialisasi manajemen talenta yang digelar hari itu bukan sekadar seremoni administratif. Arsal ingin mengubah wajah tata kelola Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayahnya.
Ia bermimpi tentang birokrasi yang tak lagi ditentukan oleh kedekatan atau sekadar masa kerja, melainkan oleh rekam jejak, kompetensi, dan kerja keras.
”Bagaimana kita bisa memberikan penghargaan kepada orang yang berprestasi, memiliki pengalaman, dan layak menduduki jabatan yang lebih tinggi berdasarkan kemampuan, kompetensi, serta kualitas kinerjanya,” ujar Arsal tegas di podium.
Bagi Arsal, meritokrasi adalah harga mati jika Mamuju Tengah ingin berlari lebih cepat. Ia berkaca pada pengalaman tahun 2015, saat daerah itu mulai menerapkan sistem Computer Assisted Test (CAT) dalam seleksi CPNS. Saat itu, skeptisisme sempat mengemuka.
Namun, hasilnya tak terbantahkan: mereka yang duduk di kursi birokrasi adalah individu yang benar-benar teruji di atas kertas dan lapangan.
”Dengan sistem CAT, mereka yang mendapatkan nilai terbaik adalah yang benar-benar memiliki kemampuan. Hasilnya terbukti sangat baik dan menghasilkan ASN yang berkualitas,” kata pria bergelar doktor ini.
Sistem manajemen talenta yang kini dikebut ini merupakan kelanjutan dari komitmen Arsal yang sebelumnya telah disodorkan di depan BKN. Pemerintah kabupaten ingin memastikan bahwa jalur karier seorang pegawai benar-benar terukur. Tidak ada lagi lompatan jabatan yang ujug-ujug tanpa dasar kompetensi yang jelas.
Dengan sosialisasi ini, Arsal berharap seluruh perangkat daerah di Mamuju Tengah tidak lagi gamang. Manajemen talenta diharapkan menjadi instrumen objektif untuk memetakan siapa yang layak dipromosikan dan siapa yang butuh pengembangan lebih lanjut.Ini adalah upaya panjang untuk mengubah kultur birokrasi dari sekadar “pelayan rutinitas” menjadi “mesin penggerak” yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.
Di Mamuju Tengah, birokrasi kini sedang dipaksa untuk lebih objektif, adil, dan—yang terpenting—berbasis pada hasil nyata.
By Adhie

Tinggalkan Balasan