Mamuju, Nuansainfo.com – Kelompok Pecinta Alam Botteng (Kar-Bon) Sulawesi Barat menyatakan penolakan keras terhadap rencana pembukaan tambang logam tanah jarang (LTJ) di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Keberadaan aktivitas pertambangan tersebut dinilai mengancam ruang hidup masyarakat adat dan kelestarian lingkungan setempat.

Hal itu ditegaskan oleh perwakilan aktivis Kar-Bon, Martin, saat ditemui seusai pemutaran film Pesta Babi di lapangan sepak bola Desa Botteng, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Martin, rencana masuknya industri pertambangan ini berpotensi merusak ruang hidup masyarakat setempat yang mayoritas menggantungkan hidup sebagai petani. Wilayah yang menjadi target sasaran, terutama Desa Botteng, merupakan tanah ulayat yang telah didiami oleh leluhur mereka sejak ratusan tahun lalu.

Dampaknya bukan hanya soal kerusakan lingkungan secara masif, melainkan juga berimbas besar pada tatanan sosial dan kebudayaan masyarakat. Tanah-tanah leluhur kami terancam hilang,” ujar Martin.

Martin menjelaskan bahwa Botteng bukan sekadar wilayah administratif, melainkan sebuah kesatuan masyarakat adat yang memiliki peradaban, hukum adat, dan kebudayaan tersendiri yang luhur. Jika bentang alamnya dirusak oleh aktivitas pertambangan, peradaban dan identitas kultural tersebut dikhawatirkan akan punah.

Ia pun mempertanyakan masa depan warga jika ruang kelola agraria mereka dialihfungsikan menjadi kawasan tambang.

Jika tambang ini benar-benar beroperasi, di mana masyarakat kami akan tinggal? Mayoritas warga di sini adalah petani. Kalau lahan pertanian mereka diambil, bagaimana mereka bisa menyambung hidup?” kata Martin retoris.

Lebih lanjut, Martin menilai kehadiran industri pertambangan sering kali hanya menguntungkan segelintir pihak, sementara beban kerusakan lingkungan dan sosial harus ditanggung oleh masyarakat lokal.

Oleh karena itu, Martin mendesak Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dan Pemerintah Kabupaten Mamuju untuk bertindak bijaksana serta berhati-hati dalam menerbitkan kebijakan atau izin terkait pengelolaan ruang di wilayah tersebut.

By. Adhie