Mamuju, nuansainfo.com – Tindakan represif berupa pelarangan peliputan terhadap sejumlah awak media dalam agenda evaluasi Program Strategis Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Hotel d’Maleo Mamuju, memicu reaksi keras dari aktivis kemasyarakatan. LSM Merdeka Manakarra Sulawesi Barat secara resmi mengecam insiden tersebut dan mempertanyakan motif di balik tertutupnya agenda penting ini.

Pengusiran wartawan di Hotel Grand Maleo ini dinilai mencederai keterbukaan informasi publik, terutama pada program skala nasional yang menyangkut hajat hidup masyarakat banyak. Padahal, kegiatan inspeksi oleh Dirtawas ini diharapkan mampu memperkuat fungsi kontrol dan transparansi, serta memastikan seluruh SPPG di wilayah Sulawesi Barat memberikan pelayanan yang akuntabel sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.

Aktivis LSM Merdeka Manakarra, Andika Mungkar, menyatakan bahwa tindakan menghalangi kerja jurnalistik merupakan bentuk kemunduran demokrasi yang nyata di Sulawesi Barat. Menurut Andika, jika pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis tersebut memang berjalan sesuai dengan prosedur dan tanpa kendala, pihak penyelenggara tidak semestinya menunjukkan sikap alergi terhadap pers.

Andika Mungkar menilai sikap tertutup yang diperlihatkan selama agenda evaluasi ini justru memicu spekulasi negatif dan kecurigaan yang kuat di tengah masyarakat. Muncul indikasi bahwa ada hal-hal krusial terkait tata kelola atau realisasi anggaran program di lapangan yang sengaja ditutupi agar tidak menjadi konsumsi publik.

Oleh karena itu, Andika Mungkar bersama LSM Merdeka Manakarra mendesak pihak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera memberikan klarifikasi terbuka mengenai insiden pengusiran ini. Ia menegaskan bahwa kebebasan pers dalam mengawal Program Strategis Nasional di Sulawesi Barat adalah harga mati demi menjaga asas keadilan dan akuntabilitas.

By Adhie