Oleh: Adhi Riadi
Mamuju Tengah, nuansinfo.com – Jarum jam tepat menunjuk pukul 14.00 Wita saat halaman Rumah Adat Lempo Gandeng di Tangkou, Budong-Budong, mulai riuh oleh langkah kaki. Mengenakan pakaian terbaik, masyarakat dari berbagai generasi—tetua adat dengan tatapan teduh, hingga anak-anak yang berlarian kecil—berkumpul. Suasananya khidmat, namun hangat.
Saya tiba di sana bersama Dinda Wentri, kader Kohati Mamuju Tengah. Selama ini, Dinda hanya mengenal Mamose lewat tuturan orang tua. Siang itu, narasi lisan tersebut perlahan bertransformasi menjadi realitas yang bergerak di depan mata.

Tak ada hiruk-pikuk yang berlebihan. Orang-orang berbisik pelan, seolah takut mengusik kesakralan yang membungkus Lempo Gandeng. Rumah adat yang berdiri kokoh itu seakan menjadi titik nol di mana waktu berhenti sejenak, memberi ruang bagi masa lalu dan masa kini untuk saling menyapa.
Mamose bukan sekadar seremonial. Ia adalah simpul yang mengikat kembali masyarakat Tangkou Budong-Budong dengan warisan leluhurnya. Ritual ini merupakan muara dari Magora, prosesi yang sehari sebelumnya dilakukan di Sungai Budong-Budong. Jika Magora adalah denyut awal, maka Mamose adalah labuhan terakhir yang mengunci ikatan tersebut.

Dalam Magora, doa-doa dipanjatkan kepada Sang Pemilik Alam Semesta. Perjalanan menyusuri sungai dengan perahu, diiringi bunyi tantuang yang berpadu dengan teriakan khas, bukan sekadar bunyi. Itu adalah panggilan purba yang menggema di sepanjang aliran sungai, menandai rombongan adat yang tengah melintas. Di atas air, batas antara manusia, alam, dan tradisi seolah meluruh menjadi satu.
Puncak dari seluruh rangkaian itu adalah Mamose.
Masyarakat kerap menyebutnya sebagai Pemanna atau tradisi tebas tubuh. Namun, memaknai Mamose hanya dari simbol fisik adalah bentuk penyederhanaan yang keliru. Ia adalah peneguhan kembali kontrak sosial antara pemangku adat dan masyarakat untuk setia pada nilai-nilai leluhur. Amanah ini dijaga selama puluhan, bahkan ratusan tahun, membuktikan bahwa tradisi bukanlah artefak yang beku, melainkan napas yang terus hidup.
Ada pergeseran siklus yang menarik dicermati. Dahulu, Magora dan Mamose dilaksanakan tiga kali setahun, mengikuti ritme hidup dari mulai membuka lahan hingga panen. Kini, frekuensinya menyesuaikan kemampuan masyarakat menjadi dua kali setahun. Fungsinya pun meluas; dari yang semula lekat dengan siklus agraris, kini Mamose menjadi wajah penyambutan tamu kehormatan dan media pelestarian budaya. Tradisi ini terbukti adaptif, tanpa perlu mencabut akar yang menopangnya.
Meski begitu, terselip nada sumbang di balik keberlangsungan ritual ini. Ada kerinduan yang belum tuntas terhadap Morego—tarian dan perjamuan adat yang dahulu menjadi penutup seluruh rangkaian sebagai wujud syukur. Jejak Morego kini kian samar, menyisakan pekerjaan rumah bagi generasi muda untuk menghidupkannya kembali.
Menjelang sore, cahaya matahari menyelinap di antara tiang-tiang kayu Lempo Gandeng. Prosesi perlahan menyudahi lakunya, namun impresinya membekas. Saya melirik Dinda yang masih terpaku, memproses setiap detail yang baru saja ia saksikan.
Bagi kami, Mamose adalah cermin. Ia mengingatkan bahwa sebuah peradaban hanya bisa berdiri kokoh selama masyarakatnya tidak melepas genggaman pada akar yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Di Lempo Gandeng, ingatan kolektif itu baru saja diperteguh…

Tinggalkan Balasan