Mamuju, Nuansainfo.com — Hiruk-pikuk nilai tukar Rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat dalam dua pekan terakhir mengundang atensi serius dari berbagai korporasi di daerah. Badan Pengurus Wilayah (BPW) Himpunan Pengusaha Kahmi (HIPKA) Sulawesi Barat angkat bicara, meminta pelaku usaha di wilayahnya untuk tidak terperangkap dalam kepanikan kolektif.

Ketua BPW HIPKA Sulawesi Barat, Muh. Arifain, menilai fluktuasi mata uang saat ini merupakan residu dari dinamika ekonomi global yang sulit dihindari. Menurutnya, kebijakan suku bunga negara maju dan tensi geopolitik dunia menjadi variabel utama yang memicu arus modal global bergejolak. “Ini tantangan global, bukan hanya Indonesia. Menghadapinya perlu kepala dingin dan sikap yang proporsional,” ujar Arifain kepada nuansainfo.com, Kamis (11/6).

Bagi pelaku usaha, Arifain tak menampik adanya tekanan, terutama bagi sektor yang masih menggantungkan nadi bisnisnya pada bahan baku dan mesin impor. Namun, ia melihat posisi Rupiah yang kini bergerak di kisaran Rp17.900-an masih dalam koridor yang terukur. Ia justru menyoroti momen ini sebagai peringatan bagi pelaku usaha untuk segera mengakselerasi kemandirian ekonomi nasional.

“Ini saatnya menguji ketangguhan produk dalam negeri. Kita harus memacu daya saing usaha lokal agar tidak terlalu sensitif terhadap guncangan mata uang asing,” katanya.

Di sisi lain, HIPKA Sulawesi Barat memberikan dukungan penuh kepada Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Arifain menegaskan bahwa instrumen kebijakan yang tengah dijalankan otoritas ekonomi nasional memerlukan kepercayaan publik agar efektivitasnya terjaga. Ia mewanti-wanti masyarakat agar tidak terjebak dalam spekulasi pasar yang berlebihan—karena menurutnya, persepsi negatif yang tidak berbasis data seringkali lebih merusak ekonomi dibanding pergerakan kurs itu sendiri.

“Kondusivitas sosial dan politik adalah modal sosial yang tidak ternilai saat ini,” tambah Arifain. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan—mulai dari akademisi, tokoh masyarakat, hingga organisasi kepemudaan—untuk menjaga iklim daerah agar tetap kondusif bagi investasi.

Arifain menutup percakapan dengan nada optimis. Ia percaya bahwa Indonesia telah berulang kali teruji melewati krisis ekonomi yang lebih destruktif berkat modal gotong royong. Menurutnya, fokus saat ini harus tetap tertuju pada penguatan sektor produktif dan penciptaan lapangan kerja baru.

“Bangsa ini punya daya lenting (resilience) yang kuat. Selama kepercayaan terhadap perekonomian nasional terus dipupuk, stabilitas bukan hal yang mustahil untuk dipertahankan,” pungkasnya.

By Adhie