Mamuju, nuansainfo.com – Malam Minggu di Lingkungan Tahaya-haya, Kelurahan Karema, Mamuju, seharusnya berakhir tenang. Namun, pada 7 Juni 2026, suasana justru pecah oleh aksi kekerasan yang menimpa Yudi, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sulawesi Barat. Ia diduga menjadi bulan-bulanan sekelompok pemuda dalam sebuah insiden pengeroyokan yang kini memicu kecaman luas.
Konflik bermula dari niat Yudi mendatangi lokasi kejadian sekitar pukul 23.00 WITA. Ia datang dengan itikad mencari klarifikasi atas dugaan pemukulan yang menimpa adik kandungnya beberapa waktu sebelumnya. Alih-alih mendapatkan ruang dialog, Yudi justru disambut dengan serangan fisik secara membabi buta.
“Saya datang dengan niat baik untuk menyelesaikan masalah secara damai,” ujar Yudi saat menceritakan kembali insiden tersebut. Namun, upayanya kandas. Korban mengaku dikeroyok oleh sejumlah orang yang berada di lokasi hingga tersungkur. Akibat peristiwa itu, Yudi menderita luka lecet di sekujur tubuh, serta nyeri hebat pada kepala, rahang, dan tulang rusuk sebelah kiri.
Pasca-insiden, Yudi telah menjalani visum di Rumah Sakit Bhayangkara Mamuju untuk melengkapi bukti laporan di Polresta Mamuju.
Kasus ini sontak memantik reaksi keras dari internal GMNI. Wakil Kepala Bidang Kesarinahan GMNI mengutuk keras aksi brutal tersebut. Menurut dia, pengeroyokan ini merupakan bentuk premanisme yang tak bisa ditoleransi di ruang publik. “Kami mendesak polisi segera mengusut tuntas, menangkap para pelaku, dan memberi kepastian hukum. Kekerasan bukan solusi atas persoalan apa pun,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua DPC GMNI Mamuju, Dicky Wahyudi, memastikan organisasinya akan mengawal proses hukum kasus ini hingga tuntas. “Kami menuntut profesionalisme kepolisian. Jangan ada ruang bagi pelaku kekerasan untuk bebas dari jerat hukum,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, Polresta Mamuju masih bungkam. Belum ada keterangan resmi terkait identitas pelaku maupun perkembangan penyelidikan atas laporan sekretaris GMNI tersebut. Di balik sunyinya respons aparat, publik kini menanti apakah hukum akan benar-benar tegak atau sekadar menjadi catatan di atas kertas.
By Adhie

Tinggalkan Balasan