Mamuju, nuansainfo.com – Dampak dugaan pencemaran limbah perkebunan kelapa sawit PT Astra di Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, kian mengkhawatirkan. Setelah tiga bulan bertahan di tengah krisis air, warga di sepanjang aliran Sungai Balongkoh desa kire Mamuju Tengah, kini mulai terserang penyakit kulit, sementara ekosistem perairan dilaporkan rusak parah ditandai dengan fenomena kematian ikan secara massal.
Kontaminasi yang diduga kuat berasal dari kebocoran pipa dan penimbunan limbah ilegal ini telah mengubah fungsi sungai dari sumber kehidupan menjadi ancaman kesehatan bagi masyarakat.
Sugandi Yusuf R, perwakilan masyarakat terdampak, mengungkapkan bahwa warga tidak lagi memiliki pilihan selain berinteraksi dengan air yang telah tercemar, mengingat sungai-sungai tersebut merupakan satu-satunya sumber air permukaan di wilayah mereka.
“Kondisinya sekarang semakin memprihatinkan. Banyak warga, terutama anak-anak, mulai mengalami gatal-gatal dan iritasi kulit yang parah setelah menggunakan air sungai. Selain itu, bangkai ikan air tawar sudah mengapung di mana-mana karena airnya beracun. Ini sudah menjadi bencana lingkungan bagi kami,” kata Sugandi, Rabu (3/6/2026).
Mati massalnya biota sungai ini mengindikasikan bahwa tingkat pencemaran telah melewati ambang batas toleransi makhluk hidup. Secara ekologis, fenomena ini biasanya dipicu oleh penurunan drastis kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) akibat akumulasi material organik limbah secara masif.
Urgensi Pertanggungjawaban dan Investigasi
Melihat situasi yang kian mendesak, masyarakat menuntut PT Astra tidak hanya sekadar memperbaiki fasilitas pipa yang bocor, tetapi juga bertanggung jawab penuh atas biaya pemulihan kesehatan warga serta pembersihan (remediasi) total ketiga aliran sungai tersebut.
By Adhie

Tinggalkan Balasan