nuansainfo.com, Pasangkayu – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pasangkayu mengecam keras aksi pengeroyokan brutal yang menimpa dua kader PMII Cabang Mamuju, Ikhwan Rozi dan Fergiawan Reizaski. Insiden berdarah tersebut terjadi di Sekretariat Perjuangan Mahasiswa Vendetta.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, para pelaku penyerangan disinyalir merupakan oknum yang terafiliasi sebagai relawan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ironisnya, salah satu pelaku diduga kuat membekali diri dengan senjata tajam saat melancarkan aksinya.

Ketua Umum PC PMII Pasangkayu, Sudirman, menegaskan bahwa penyerangan terhadap sekretariat mahasiswa merupakan bentuk nyata dari pembungkaman ruang demokrasi dan nalar kritis anak muda.

“Kekerasan fisik, apalagi dengan membawa senjata tajam, adalah bentuk pembungkaman paling biadab terhadap mahasiswa. Ruang konsolidasi tidak boleh diubah jadi arena kekerasan, sekretariat mahasiswa bukan arena gladiator,” ujar Sudirman dalam keterangan resminya, Jumat, 29 Mei 2026.

Sudirman mendesak jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk bergerak cepat menangkap dan memproses hukum seluruh pelaku tanpa pandang bulu. Ia menggarisbawahi bahwa status atau atribut sebagai relawan program pemerintah sama sekali tidak membuat para pelaku kebal hukum.

PC PMII Pasangkayu juga menuntut pertanggungjawaban negara jika benar para pelaku merupakan bagian dari program bentukan pemerintah tersebut. Pemerintah diminta mengevaluasi total sistem perekrutan relawan agar tidak memicu gesekan sosial baru.

“Jika benar pelaku berasal dari relawan MBG, maka negara wajib mengevaluasi mekanisme rekrutmen, pembinaan, dan pengawasan. Program yang lahir dari APBN tidak boleh melahirkan konflik horizontal baru,” kata Sudirman menambahkan.

Menutup pernyataannya, Sudirman menyatakan solidaritas penuh terhadap kedua korban. Ia menilai kekerasan fisik bermotif pembungkaman ini merupakan ancaman serius bagi seluruh gerakan mahasiswa di Sulawesi Barat.

Ia pun menantang para pelaku untuk beradu argumen secara sehat, ketimbang menggunakan cara-cara premanisme yang dinilainya pengecut.

“Kami berdiri penuh di belakang korban. Luka yang mereka terima adalah luka bagi seluruh gerakan mahasiswa. Beda pendapat boleh, adu gagasan silakan. Tapi main hakim sendiri dan bawa senjata tajam itu tindakan pengecut,” pungkasnya.

PC PMII Pasangkayu kini mengajak seluruh elemen mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil untuk mengawal ketat proses penyelidikan di kepolisian demi memastikan tidak ada impunitas bagi para pelaku kekerasan.

By Adhie