MAMUJU TENGAH – Dampak fenomena iklim El Nino yang memicu kekeringan hebat melanda Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Kondisi ini membuat 18 desa yang tersebar di lima kecamatan kini berstatus kritis air bersih dan membutuhkan penanganan darurat.
Merespons kondisi tersebut, Kepolisian Resor (Polres) Mamuju Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah dan instansi terkait secara resmi membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan El Nino Lintas Sektor.
Pembentukan Satgas dipimpin langsung oleh Kapolres Mamuju Tengah, AKBP Ari Prayitno, dalam Rapat Koordinasi Penanganan El Nino di Mapolres Mamuju Tengah, Desa Tobadak.
Sebaran 18 Desa Terdampak Kekeringan
Berdasarkan data pemetaan Polres Mamuju Tengah dan dinas teknis, 18 desa yang terdampak kritis pasokan air bersih meliputi:
-
Kecamatan Pangale: Desa Pololereng, Desa Sartanamaju, Desa Polo Pangale, dan Desa Kuo.
-
Kecamatan Budong-Budong: Desa Salugatta, Desa Pontanakkayang, Desa Tinali, dan Desa Babana.
-
Kecamatan Topoyo: Desa Kabubu, Desa Paraili, Desa Salupangkang, dan Desa Topoyo.
-
Kecamatan Tobadak: Desa Tobadak, Desa Saluadak, Desa Sejati, dan Desa Palongaan.
-
Kecamatan Karossa: Desa Karossa dan Desa Kayu Calla.
Langkah Cepat Satgas Lintas Sektor
Kapolres Mamuju Tengah, AKBP Ari Prayitno, menegaskan bahwa pembentukan Satgas lintas sektor ini bertujuan untuk menyatukan persepsi serta mempercepat koordinasi dalam menyalurkan bantuan air bersih dan memitigasi dampak kekeringan bagi masyarakat.
“Pembentukan Satgas Penanganan El Nino ini merupakan langkah nyata untuk bergerak cepat dilapangan. Kita bersinergi menyalurkan air bersih ke titik-titik kritis serta memitigasi risiko kekeringan agar tidak berdampak pada krisis pangan maupun masalah kesehatan,” ujar AKBP Ari Prayitno.
Dengan resminya pembentukan Satgas ini, Pemkab dan Polres Mamuju Tengah mengimbau warga di desa terdampak untuk tetap tenang dan aktif melaporkan kebutuhan air bersih melalui pemerintah desa setempat agar penyaluran bantuan dapat berjalan tepat sasaran.

Tinggalkan Balasan