Mamuju Tengah, Nuansainfo.com — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kecamatan Budong-Budong, Mamuju Tengah, tidak hanya diwarnai pesan keagamaan. Wakil Bupati Mamuju Tengah Dr. H. Askary, S.Sos., M.Si., turut menyoroti sejumlah persoalan yang tengah dihadapi masyarakat, mulai dari krisis air bersih, ancaman krisis listrik, hingga persoalan yang dinilainya paling berbahaya: krisis moral.
Pesan tersebut disampaikan Askary saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Besar Al-Giradat, Kecamatan Budong-Budong.
Dalam sambutannya, Askary mengajak masyarakat menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai kesempatan untuk memperkuat kepedulian terhadap keluarga dan lingkungan sosial.
“Bapak-Ibu sekalian, keluarga saya, anak-anak, ibu sekalian yang saya cintai, kita dihadapkan pada multi krisis,” ujar Askary.
Ia kemudian menyebut sejumlah persoalan yang menurutnya mulai dirasakan masyarakat.
“Apa itu multi krisis? Sekarang ini kita krisis air bersih. Tidak lama lagi kita krisis listrik. Belum lagi krisis keuangan dan lain-lain sebagainya. Tapi yang paling berbahaya adalah krisis moral,” tegasnya.
Menurut Askary, krisis moral perlu menjadi perhatian bersama. Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk terus menjaga keluarga serta membimbing generasi muda agar tumbuh ke arah yang lebih baik.
“Untuk itu, mari kita terus menjaga keluarga kita, untuk terus membawa keluarga dan masyarakat kita ke arah yang lebih baik,” katanya.
Tak hanya soal moral, Askary juga menyampaikan persoalan lingkungan yang kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah.
Ia mengungkapkan, dalam kurun waktu sekitar satu bulan telah terjadi lebih dari 50 titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Mamuju Tengah.
“Saya ingin menyampaikan pada kesempatan ini, bahwa selama kurun waktu satu bulan ini, 50 titik lebih telah terjadi kebakaran hutan dan lahan di Mamuju Tengah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, kata Askary, diperparah dengan keterbatasan peralatan pemadam kebakaran yang dimiliki pemerintah daerah.
“Sementara alat pemadam kebakaran kita itu sangat terbatas,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat, khususnya para pemilik lahan, agar tidak sembarangan membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar.
“Jangan coba-coba membakar sampahnya di lahan,” tegas Askary.
Ia mengakui bahwa pembakaran untuk membersihkan lahan kerap dilakukan masyarakat. Namun, menurutnya, aktivitas tersebut memiliki potensi besar memicu kebakaran yang lebih luas.
“Eh, mau bakar untuk bersihkan tidak masalah. Iya, tapi itu potensi terjadinya kebakaran,” katanya.
Askary juga mengingatkan masyarakat mengenai konsekuensi hukum apabila pembakaran tersebut menyebabkan kebakaran.
“Kalau ini kita lakukan dan menimbulkan kebakaran, kena pidana,” tegasnya.
Peringatan tersebut semakin penting, kata Askary, karena berdasarkan prediksi BMKG, kondisi kemarau panjang diperkirakan masih berlangsung hingga awal tahun.
“Mohon kepada seluruh orang tua saya untuk menjaga itu, karena prediksi BMKG kemarau panjang ini akan terjadi sampai dengan awal tahun,” ujarnya.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, Askary mengajak masyarakat tidak menyerah. Ia menekankan pentingnya kebersamaan dan kolaborasi untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada.
“Saya yakin dan percaya di momentum Maulid ini, kalau kita bersama dan berkolaborasi, tidak ada masalah yang tidak bisa kita selesaikan, Insyaallah,” katanya.
Ia menutup pesannya dengan mengingatkan masyarakat bahwa setiap persoalan yang dihadapi manusia diyakini masih berada dalam batas kemampuan untuk diselesaikan.
“Karena Allah sudah mengatakan bahwa kita diberikan masalah, Insyaallah kita mampu melaksanakannya,” tutup Askary.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang keteladanan Rasulullah, tetapi juga menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat Mamuju Tengah untuk bersama-sama menghadapi persoalan lingkungan, sosial, serta tantangan kehidupan ke depan.
By Adhie

Tinggalkan Balasan