Mamuju, Nuansainfo.com – Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) resmi melantik jajaran kepengurusan baru Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Sulawesi Barat sekaligus Pengurus Cabang (PC) PMII Mamuju. Procession pelantikan yang berlangsung khidmat di Aula D’Maleo Hotel, Jalan Yos Sudarso, Mamuju, tersebut dihadiri ratusan alumni, kader se-Sulawesi Barat, serta Gubernur Sulawesi Barat yang juga Ketua Ikatan Alumni (IKA) PMII Sulbar, Dr. H. Suhardi Duka, M.M..

Dalam kesempatan tersebut, Suhardi Duka memberikan pembekalan spiritual sekaligus etika berorganisasi bagi para kader pergerakan. Ia menekankan pentingnya memegang teguh ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) serta membeberkan empat prinsip dasariah yang pantang untuk dilawan oleh kader PMII.

“Pertama, jangan kamu lawan Tuhan. Kedua, jangan lawan orang tuamu. Ketiga, jangan lawan gurumu karena gurulah yang menerangi perjalanan hidupmu. Dan keempat, jangan lawan penguasa yang bijak,” tegas Suhardi Duka di hadapan ratusan kader yang hadir. Mamuju 9/8/2026

Edukasi Kontrol Politik: Ingatkan Dulu, Baru Demo

Mantan Bupati Mamuju dua periode tersebut juga memberikan edukasi mengenai mekanisme kontrol sosial dan politik bagi para kader terhadap alumni maupun pemerintah. Ia meminta para aktivis mahasiswa untuk mengedepankan ruang dialog dan tabayun ketimbang langsung mengambil tindakan konfrontatif.

“Kalau ada seniormu jadi gubernur, kalau ia benar, support dia. Kalau ia melenceng, ingatkan dulu. Jangan langsung berontak. Tapi kalau tidak bisa diingatkan, baru demo,” ujarnya.

Pasang Badan Soal Potensi Tambang Tanah Jarang

Tidak hanya memberikan pembekalan etika kepemimpinan, Suhardi Duka juga menyentuh isu strategis terkait kekayaan alam di Sulawesi Barat. Ia menyoroti potensi mineral kritis (rare earth) atau tanah jarang yang teridentifikasi berada di wilayah Mamuju dan Mamasa.

Meski potensi tersebut tergolong sebagai aset nasional yang sangat strategis secara geopolitik, ia menegaskan komitmennya untuk berpihak pada keselamatan warga. Sebagai sesama kader pergerakan, ia menolak keras eksploitasi jika dampaknya justru menyengsarakan masyarakat lokal.

“Meskipun ini aset nasional strategis, tapi kalau mau ditambang dan menderita rakyat kita, kita sama-sama sepakat tidak usah. Karena saya kader PMII,” tegas Suhardi Duka.

By Adhie