Mamuju, nuansainfo.com – Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Sulawesi Barat menyoroti isu pengelolaan logam tanah jarang (LTJ) yang belakangan menjadi perhatian publik. Organisasi mahasiswa itu meminta pemerintah membuka informasi secara transparan mengenai kandungan mineral di wilayah yang berpotensi memiliki sumber daya LTJ.
Sekretaris Bidang SDM PKC PMII Sulawesi Barat, Sukri Karim, mengatakan informasi mengenai kandungan mineral harus didasarkan pada kajian ilmiah dan dapat diverifikasi. Ia mengingatkan agar istilah LTJ tidak digunakan untuk menutupi kemungkinan keberadaan mineral radioaktif apabila hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi tersebut.
«“Kami tidak ingin LTJ hanya menjadi topeng dari uranium. Kalau memang ada indikasi kandungan uranium atau mineral radioaktif lainnya, pemerintah harus terbuka dan menjelaskan berdasarkan data ilmiah,” kata Sukri Karim.melalui WhatsApp 16/8/2026
Menurut Sukri, pernyataan tersebut bukan berarti setiap deposit LTJ mengandung uranium. Ia menilai kepastian mengenai kandungan mineral hanya dapat diperoleh melalui kajian geologi, pengujian laboratorium, serta pemetaan yang dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
PKC PMII Sulbar juga meminta aspek keselamatan masyarakat dan lingkungan menjadi pertimbangan utama apabila kegiatan eksplorasi maupun pemanfaatan LTJ dilakukan. Jika hasil penelitian menemukan adanya unsur radioaktif, kata Sukri, pengelolaannya harus mengikuti standar keselamatan serta ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
“Jangan sampai kepentingan investasi membuat aspek keselamatan masyarakat dan lingkungan diabaikan. Data harus dibuka, hasil uji laboratorium harus dapat dipertanggungjawabkan, dan masyarakat harus mendapatkan informasi yang benar,” ujarnya.
PKC PMII Sulbar menyatakan akan terus mengawal perkembangan isu tersebut. Mereka mendorong pemerintah melibatkan akademisi, ahli geologi, serta masyarakat dalam menguji setiap informasi mengenai LTJ maupun kemungkinan keberadaan mineral radioaktif sehingga kebijakan yang diambil tidak hanya berorientasi pada investasi, tetapi juga mempertimbangkan keselamatan publik dan keberlanjutan lingkungan.
By Adhie

Tinggalkan Balasan