Penulis : Ahmad Zaky Al Mahdaly

Sulawesi Barat, nuansainfo.com – Bagi banyak orang, nama Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin mungkin lebih sering berikhtiar di panggung dinamika politik lokal dan ruang akademik. Namun, di balik riuk panggung publik itu, tersimpan kedalaman makrifat dan cara pandang keagamaan yang menjadi poros pencerahan di Tanah Mandar.

Kenangan mendalam tentang almarhum dipaparkan oleh Ahmad Zaky Al Mahdaly, seorang akademisi sekaligus kader Nahdlatul Ulama yang membagikan catatan testimoninya mengenai jejak epistemologi dan spiritualitas sang Annangguru.

Takdir pertemuan Zaky dengan Kyai Syibli bermula pada tahun 2005—sebuah babak baru tatkala ia berpindah dari IAIN Alauddin Makassar menuju Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman). Kala itu, di bawah bimbingan pamannya, almarhum Sayyid Hamid Thaha Al Mahdaly, Zaky menghadap Kyai Syibli yang baru saja dilantik sebagai Rektor Unasman.

Pertemuan perdana di ruang kerja Rektor tersebut langsung menorehkan kesan batin yang mendalam. Tanpa basa-basi, tatapan teduh Kyai Syibli menembus ke dalam jiwa Zaky lewat sebuah pertanyaan singkat: “Kamu di organisasi mana belajar?”

“Saya kader NU, Kiyai,” jawab Zaky mantap.

Mendengar jawaban itu, Kyai Syibli tersenyum, lalu menumpahkan amanah besar yang tengah ditampuknya di Unasman. Beliau merumuskan pondasi institusi tersebut dalam sebuah ungkapan yang filosofis dan visioner.

“Kampus ini adalah amanah Ambah (Prof. Dr. KH. Sahabuddin). Asy’ariyah adalah ideologi yang mengajarkan tata nilai agama yang moderat dan toleran. Sedangkan Mandar adalah ideologi budaya yang mengajarkan nilai luhur satu entitas di wilayah Sulawesi Barat.”

Bagi Zaky, sejak hari itu Unasman bukan sekadar ruang fisik menuntut ilmu, melainkan kawah candradimuka persemaian gagasan dan peradaban. Kyai Syibli dinilainya sebagai sosok ulama langka: beliau paham letak dasar epistemologi pengetahuan modern tanpa pernah menanggalkan akar keilmuan agama tradisional. Dalam pandangannya, kuantitas mahasiswa tidak banyak bermakna jika tidak dibarengi kualitas yang mampu melahirkan peradaban ilmu di Sulawesi Barat.

Makrifat di Balik Idiom “Mengabdi untuk Semua”

Namun, di atas kecemerlangan intelektualnya, Kyai Syibli adalah seorang Mursyid yang senantiasa menutupi kedalaman spiritualnya. Seluruh muara argumen, pemikiran, dan laku tasawuf yang dijalaninya terangkum dalam satu idiom sakral: “Mengabdi untuk Semua.”

Gagasan yang digaungkan sejak 2005 itu sering kali disalahpahami oleh kalangan luar sebagai jargon politik atau slogan kampus semata. Padahal, menurut Zaky, ungkapan tersebut merupakan sari pati ajaran spiritualitas tertinggi almarhum.

“Mengabdi untuk semua” adalah manifestasi makrifat bahwa setiap manusia dipanggil untuk berkhidmat kepada seluruh makhluk tanpa sekat maupun batas golongan. Dalam kacamata tasawuf Kyai Syibli yang jernih, seluruh penciptaan bermula dari satu entitas dan sumber cahaya yang sama: Nur Muhammad. Oleh karena itu, melayani sesama adalah bentuk pemuliaan terhadap sumber asal tersebut.

Kini, sang Annangguru telah berpulang menemu Sang Khalik. Publik mungkin meratapinya sebagai sosok tokoh politik dan akademisi, namun bagi para murid dan pejalan spiritual, kepergiannya adalah kehilangan sosok poros langit penyejuk bumi Mandar.

Politiknya adalah bentuk pengabdian, kiprah akademisnya adalah khidmat, dan jalan tarekatnya adalah cinta mendalam kepada seluruh makhluk. Slogan “Mengabdi untuk Semua” kini tidak lagi sekadar warisan kata-kata, melainkan amanah peradaban yang ditinggalkan untuk dijaga dan dirawat oleh generasi penerusnya.

Lahumul Fatihah.