Nuansainfo.com, Mamuju – Kemeriahan peringatan hari ulang tahun Provinsi Sulawesi Barat tahun ini diwarnai kritik menukik dari kalangan pemuda setempat. Di balik panggung hiburan dan serangkaian pidato keberhasilan pejabat publik, refleksi mendalam disampaikan Tokoh Pemuda Sulawesi Barat, Muh. Saad Pasilon, S.E.
Saad menilai perayaan hari jadi daerah seharusnya tidak sekadar menjadi ritual kosmetik tahunan untuk menutupi retak-retak persoalan sosial. Menurut dia, momentum ulang tahun merupakan cermin besar untuk mengevaluasi kondisi daerah apa adanya tanpa terbuai statistik.
“Kita tidak boleh silau oleh angka-angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas jika di dunia nyata ketimpangan masih menganga. Kita tidak boleh cepat puas dengan deretan trofi penghargaan jika akses kesehatan, pendidikan, dan lapangan kerja masih menjadi barang mewah bagi sebagian warga di pelosok,” ujar Saad.
Ia menegaskan kemajuan suatu daerah tidak diukur dari tumpukan penghargaan pemerintah, melainkan dari tingkat kesejahteraan petani, buruh, serta kelestarian lingkungan yang diwariskan kepada generasi mendatang. Pembangunan yang mengabaikan keadilan ekologis dan kemanusiaan disebutnya sebagai penumpukan utang peradaban.
Dalam catatannya, Saad menyoroti sejumlah masalah krusial yang masih membelenggu warga Sulawesi Barat:
- Infrastruktur Terisolasi: Banyak desa dan dusun belum menikmati akses listrik yang memadai, jembatan layak, hingga jalan penghubung antar-desa yang rusak parah.
- Kesenjangan dan Kemiskinan: Angka kemiskinan masih tergolong tinggi dibanding rata-rata nasional akibat lemahnya hilirisasi hasil pertanian dan perkebunan, seperti minimnya perlindungan harga bagi petani sawit.
- Akses Kesehatan dan Pendidikan: Jarak tempuh ke fasilitas kesehatan di pedalaman masih menjadi tantangan berat yang memicu ketimpangan sosial.
- Ketergantungan Ekonomi: Minimnya penciptaan lapangan kerja berkualitas akibat ketergantungan daerah pada anggaran belanja pemerintah serta belum optimalnya pengelolaan komoditas lokal.
- Krisis Air dan Lingkungan: Ancaman kekeringan semakin nyata akibat minimnya mitigasi ketersediaan air serta hambatan pembangunan infrastruktur dasar di kawasan hutan lindung.
Saad menegaskan bahwa lontaran kritik di hari jadi daerah bukanlah bentuk kebencian, melainkan wujud kepedulian paling jujur dari warga sebagai pemilik sah masa depan Sulawesi Barat.
“Mari jadikan usia yang baru ini sebagai momentum untuk berbenah secara struktural, bukan sekadar bersolek secara kultural. Tugas kita bukan merawat kenyamanan penguasa, melainkan memastikan keadilan berjalan,” tuturnya.
By. Adhie.

Tinggalkan Balasan