Nuansainfo.com, Mamuju – Rencana eksplorasi tambang logam tanah jarang oleh PT Perminas di Desa Botteng mendapat penolakan keras dari elemen pemuda dan masyarakat setempat. Mereka menegaskan bahwa wilayah Botteng merupakan ruang hidup dan warisan leluhur yang harus dijaga, bukan sekadar lahan kosong untuk dieksploitasi demi keuntungan jangka pendek.

Pernyataan sikap tersebut disuarakan oleh akademisi sekaligus pemuda Desa Botteng Utara, Firman. Menurutnya, rencana pertambangan tersebut berpotensi merusak tatanan sosial, lingkungan, serta falsafah hidup masyarakat yang selama ini dijaga secara turun-temurun.

“Botteng bukan tanah kosong yang dapat dipandang semata-mata sebagai hamparan lahan untuk dieksploitasi. Botteng adalah ruang hidup, rumah bagi masyarakat yang membangun kehidupan, menjaga hubungan sosial, merawat alam, serta mewariskan nilai-nilai kebudayaan dari generasi ke generasi,” tegas Firman melalui WhatsApp Mamuju 4/9/2026.

Bukan Anti-Pembangunan, tapi Menolak Jadi Korban

Firman menekankan bahwa aksi penolakan ini bukan bentuk sikap anti-kemajuan. Warga menghendaki pembangunan yang tetap menghormati hak asasi manusia, keberlanjutan lingkungan, serta adat istiadat setempat.

  • Risiko Lingkungan: Aktivitas pertambangan dinilai membawa ancaman nyata terhadap tanah, sumber air, hutan, dan lahan pertanian yang tidak bisa dipulihkan hanya dengan kompensasi materi.
  •  Nilai Adat: Warga memegang teguh falsafah “Mesa kada DIPOTUHO, PATTANG kada DIPOMATE” yang bermakna persatuan dan kekuatan kolektif dalam menjaga tanah kelahiran.
  •  Transparansi Kebijakan: Warga menuntut keterlibatan bermakna (meaningful participation) dan menolak segala bentuk keputusan sepihak tanpa persetujuan masyarakat terdampar.

“Keuntungan ekonomi hari ini tidak boleh dibayar dengan kerusakan lingkungan, perpecahan sosial, hilangnya mata pencaharian, dan lenyapnya identitas masyarakat di kemudian hari,” pungkas Firman.

Masyarakat dan pemuda Botteng menyatakan akan terus bersatu mengawal isu ini demi memastikan masa depan generasi mendatang tidak terancam oleh aktivitas eksplorasi tersebut.

By. Adhie