Mamuju, Nuansainfo.com – Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) resmi melantik jajaran kepengurusan baru Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Sulawesi Barat sekaligus Pengurus Cabang (PC) PMII Mamuju. Prosesi pelantikan yang berlangsung di Aula D’Maleo Hotel, Jalan Yos Sudarso, Mamuju, tersebut dihadiri ratusan alumni, kader se-Sulawesi Barat, serta Gubernur Sulawesi Barat.

Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal PB PMII, Ahmad Syahrul Fadhil, menyoroti lompatan zaman dan tantangan lintas generasi yang kini dihadapi para kader di era digital. Karakteristik Generasi X, Milenial, hingga Generasi Z yang kian berkembang menuntut pendekatan psikologis dan sosiologis baru dalam menakhodai roda organisasi.

“Posisi yang baru adalah tempat belajar yang baru dan ruang untuk berkembang. Gunakanlah amanah ini dengan baik untuk membawa perubahan,” tegas Ahmad Syahrul di hadapan para pengurus yang baru dilantik. Mamuju 9/8/2026

Isu sentral pelantikan justru meruncing saat Ketua Majelis Pembina Daerah (Mabinda) PKC PMII Sulawesi Barat, Isra Daming Pramulya, menyampaikan pandangannya. Di balik ucapan selamat yang ia sampaikan, Isra melontarkan catatan kritis mengenai potret kesiapan para aktivis tatkala berhadapan dengan realitas dunia profesional.

Berbekal pengalamannya memimpin perusahaan selama dua tahun terakhir, Isra mengaku kerap kesulitan menemukan mantan aktivis yang siap pakai di sektor formal maupun industri kerja. Menurutnya, ruang pergerakan selama ini terlalu pekat mencetak politisi dan aktivis lapangan, namun masih minim membekali kader dengan keterampilan (skill) yang dibutuhkan industri.

“Mari terus berinvestasi untuk pengembangan diri. Invest yourself before you expect others to invest in you. Jangan sampai terlalu sibuk dengan dunia aktivisme hingga lupa mengisi diri dengan keterampilan dan pengetahuan baru,” sentil Isra.

Tidak hanya menyoroti kapasitas personal, Isra juga mewanti-wanti seluruh jajaran pengurus PKC dan PC PMII yang baru saja mengucap sumpah jabatan. Ia menekankan bahwa panggung organisasi bukan sekadar sarana pencitraan atau tumpangan nama, melainkan tanggung jawab moral untuk membangun ekosistem kaderisasi yang inklusif.

Kepemimpinan yang matang, menurutnya, diuji dari kemampuan merawat keseimbangan antara prioritas personal dan pengabdian organisasi.

“Di pundak kanan ada amanah keluarga, dan di pundak kiri ada amanah organisasi. Keduanya harus dibawa secara seimbang,” ujarnya.

Rangkaian acara tersebut ditutup dengan harapan besar bagi keberlangsungan organisasi. PB PMII secara resmi menitipkan seluruh pembinaan kader di Sulawesi Barat kepada pemerintah daerah dan jajaran tokoh masyarakat setempat, dengan harapan Gubernur Sulawesi Barat dapat terus mengayomi seluruh elemen pemuda demi kemajuan daerah.

By. Adhie