Produksi Sawit Melimpah, SPKS Mamuju Desak Pemerintah Tambah Kapasitas Pabrik Pengolahan

Sulawesi Barat475 Dilihat

Mamuju,nuansainfo.com – Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Kabupaten Mamuju, Supriadi, angkat bicara soal jeritan petani sawit swadaya saat ini. Meski tengah memasuki musim panen raya, para petani justru merana karena kesulitan menjual hasil buminya.

Pantauan di lapangan, antrean truk pengangkut Tandan Buah Segar (TBS) tampak mengular di sejumlah pabrik pengolahan. Kondisi ini dipicu oleh melimpahnya buah namun tidak sebanding dengan kapasitas produksi pabrik.

“Faktanya sekarang terjadi penumpukan buah di beberapa RAM atau timbangan di masyarakat. Karena ada keterbatasan pengelolaan di pabrik, suplai buah dibatasi masuk,” ujar Supriadi saat ditemui di salah satu warkop di Mamuju, Rabu (6/5/2026).

Berikut poin-poin penting yang disampaikan Supriadi terkait krisis tersebut:

1. Petani Terpaksa Tunda Panen

Supriadi menyebut kondisi ini membuat petani bingung. Jika dipanen, mereka tak tahu harus menjual ke mana karena RAM penuh dan pabrik membatasi stok.

“Masyarakat kesulitan melakukan penjualan. Apalagi kalau sudah masuk musim panen, mau tidak mau mereka harus menunda panennya karena tidak tahu di mana tempat menjualnya,” jelasnya.

2. Antrean Mengular di 3 Kabupaten

Masalah ini ternyata tidak hanya terjadi di Mamuju, melainkan merata di wilayah Sulawesi Barat yang menjadi sentra sawit.

“Antrean cukup lumayan panjang mengular di sepanjang pabrik. Baik pabrik yang ada di Mamuju, Mamuju Tengah, maupun di Pasangkayu. Faktanya hampir semua sama terjadi,” tambah Supriadi.

3. Solusi: Tambah Pabrik di Mamuju!

Sebagai langkah konkret, SPKS mendesak Pemerintah Kabupaten Mamuju untuk segera mencari solusi permanen. Menurutnya, satu-satunya jalan keluar adalah menambah infrastruktur pengolahan.

“Kami menawarkan langkah konkret yang harus diambil pemerintah, salah satunya adalah menambah adanya pabrik di wilayah Kabupaten Mamuju ini,” tegasnya.

4. Desakan untuk Pemerintah Daerah

Supriadi berharap pemerintah daerah tidak tinggal diam melihat hasil panen petani yang terancam membusuk akibat tidak terakomodir.

“Harus ada solusi dari pemerintah daerah untuk bagaimana kemudian mengakomodir buah-buah milik petani swadaya ini agar bisa diolah dengan baik,” tutupnya sambil menyeruput kopi.

By Adhie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *