Mamuju, nuansainfo.com – Di tengah derasnya arus pemberitaan mengenai dugaan aktivitas tambang emas ilegal di wilayah Kalumpang, Kabupaten Mamuju, yang menyebutkan kerusakan hutan hingga puluhan hektar serta keterlibatan sejumlah pihak, muncul suara lain yang tak kalah penting untuk didengar—suara dari rakyat kecil yang selama ini hidup di pinggiran narasi besar tersebut.
Sejumlah pemberitaan sebelumnya menyebutkan adanya aktivitas penambangan ilegal menggunakan alat berat, penggerebekan aparat, hingga dugaan keterlibatan oknum tertentu. Namun di balik itu semua, terdapat realitas sosial yang jauh lebih kompleks—realitas tentang perjuangan hidup masyarakat yang kerap luput dari perhatian.
Seorang warga Kalumpang yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan melalui whatsapp (27/4/2026) bahwa aktivitas pencarian emas tersebut bukanlah didorong oleh keserakahan, melainkan oleh kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup.
“Di balik isu ini, ada perjuangan rakyat yang sedang mempertaruhkan nyawa demi menyambung hidup. Ini adalah langkah terakhir mereka di saat negara dan pemerintah seolah belum mampu hadir merangkul penderitaan rakyatnya,” ujarnya dengan nada lirih.
Menurutnya, masyarakat yang turun ke sungai dan bantaran bukanlah ingin hidup mewah, melainkan sekadar memenuhi kebutuhan dasar—makan, pendidikan anak, hingga membangun tempat tinggal yang layak.
“Cari emas di Kalumpang oleh rakyat bukan untuk hidup mewah-mewahan atau bergaya hedonis, tapi untuk penuhi kebutuhan hidup, membiayai pendidikan anak-anak di kota, dan memenuhi standar hidup layak seperti membangun rumah,” lanjutnya.
Narasi ini menggambarkan bahwa persoalan tambang di Kalumpang tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Ada sisi kemanusiaan yang perlu menjadi pertimbangan dalam setiap langkah penegakan hukum. Dalam konteks Pancasila, khususnya sila kedua, keadilan dan keadaban harus berjalan beriringan dengan kebijakan yang menyentuh hati nurani.
Penegakan hukum memang penting, terlebih jika menyangkut kerusakan lingkungan. Namun, pendekatan yang terlalu represif tanpa melihat akar persoalan sosial dikhawatirkan justru memperdalam luka masyarakat yang sudah berada di titik paling rentan.
Warga tersebut juga berharap agar aparat penegak hukum tidak menutup ruang sepenuhnya terhadap aktivitas masyarakat, melainkan memberikan ruang pengawasan yang bijak.
“Sebaiknya aparat tidak terlalu menutup ruang sampai seketat mungkin, apalagi sampai ditangkapi. Boleh dikontrol selama tidak menggunduli hutan, hanya sebatas bantaran sungai sebaiknya dibolehkan,” harapnya.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan dan penegakan hukum harus berjalan seiring dengan empati. Negara hadir bukan hanya sebagai penegak aturan, tetapi juga sebagai pelindung dan pengayom rakyatnya—terutama mereka yang berada di lapisan paling bawah.
Kalumpang hari ini bukan sekadar cerita tentang emas dan tambang. Ia adalah potret getir tentang bagaimana rakyat kecil berjuang di tengah keterbatasan. Di sana, ada harapan yang digali bersama lumpur, ada masa depan anak-anak yang dipertaruhkan, dan ada doa yang terucap di setiap ayunan dulang emas.
Maka, sebelum menghakimi, barangkali kita perlu mendengar lebih dalam—karena di balik setiap lubang galian, ada cerita tentang hidup yang sedang diperjuangkan.
By Adhie







