Lumpuh Total! Antrean Sawit di Sulbar Mengular Berhari-hari, Peran KADIN hingga HIPMI Dipertanyakan

Daerah, Ekonomi, Nasional463 Dilihat

Mamuju, nuansainfo.com – Kondisi sektor perkebunan kelapa sawit di Sulawesi Barat (Sulbar) tengah berada di titik nadir. Fenomena over kapasitas pada pabrik pengolahan kelapa sawit mengakibatkan antrean truk angkutan mengular hingga berhari-hari di depan gerbang pabrik. Akibatnya, buah sawit petani kini menumpuk dan membusuk di pangkalan-pangkalan pengepul.

Krisis ini memicu reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat dan pelaku usaha angkutan. Mereka menilai ada pembiaran sistemik yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan organisasi pengusaha yang seharusnya menjadi jembatan solusi.

Hampir seluruh pabrik sawit di wilayah Sulawesi Barat melaporkan kondisi yang sama: kapasitas produksi tidak lagi mampu menampung derasnya arus pasokan buah. Dampaknya dirasakan langsung oleh para sopir armada angkutan yang harus “bermalam” di jalanan demi mendapatkan giliran bongkar muat.

“Buah sudah menumpuk di pangkalan, kualitasnya menurun, dan harga terancam anjlok. Sementara kami di sini (antrean pabrik) hanya bisa menunggu tanpa kepastian,” ujar salah satu perwakilan sopir angkutan.

Mandegnya solusi atas persoalan ini membuat publik mempertanyakan fungsi organisasi sayap pemerintah dan wadah pengusaha seperti KADIN (Kamar Dagang dan Industri), PERUSDA (Perusahaan Daerah), hingga HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia).

Organisasi-organisasi tersebut dinilai hanya menjadi ajang perebutan jabatan ketua dan pengurus tanpa memberikan kontribusi nyata saat terjadi krisis di lapangan.

Jangan hanya jabatan dan kursi pengurus saja yang diperebutkan setiap ada musyawarah. Fungsi organisasi yang mereka emban mana? Rakyat butuh solusi nyata ketika mata pencaharian mereka terhambat seperti ini,” tegas salah satu tokoh pengusaha daerah yang enggan disebutkan namanya.

Masyarakat mendesak Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dan seluruh stakeholder terkait untuk segera duduk bersama. Perlu ada langkah konkret, mulai dari evaluasi kapasitas pabrik hingga regulasi tata kelola angkutan yang lebih manusiawi.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa campur tangan serius dari pemerintah dan organisasi profesi, dikhawatirkan akan terjadi gejolak ekonomi yang lebih besar di tingkat petani sawit, yang merupakan tulang punggung ekonomi Sulawesi Barat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai solusi jangka pendek untuk mengurai antrean panjang di pabrik-pabrik sawit tersebut.

By Adhie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *