Dugaan Ketimpangan Distribusi Minyak Goreng, Bulog Mamuju Beri Penjelasan Mekanisme Penyaluran

Sulawesi Barat171 Dilihat

Mamuju, nuansainfo.com – Dugaan ketimpangan dalam penyaluran komoditas oleh Bulog Mamuju mulai menjadi perhatian publik. Sejumlah pedagang disebut mengalami perbedaan akses distribusi, khususnya untuk minyak goreng program pemerintah. Informasi ini mencuat di kalangan masyarakat, termasuk dari aktivitas diskusi di warkop Mamuju, Senin (6/4/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat perbedaan frekuensi penyaluran di tingkat Rumah Pangan Kita (RPK). Beberapa RPK disebut memperoleh pasokan hingga dua kali dalam sepekan, sementara lainnya mengaku belum menerima distribusi selama kurang lebih tiga minggu.

Padahal, di kalangan pedagang beredar ketentuan bahwa setiap RPK memiliki jatah pembelian satu kali dalam seminggu.

Menanggapi kondisi tersebut, pemerhati Sulawesi Barat, Supriadi, mendorong adanya transparansi dalam proses distribusi agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.

“Perlu ada kejelasan mekanisme distribusi di lapangan. Jangan sampai muncul anggapan adanya perlakuan berbeda antar pedagang,” ujarnya.

Menjawab hal tersebut, AM Bisnis Bulog Cabang Mamuju, Kartono Wijaya, memberikan penjelasan bahwa penyaluran minyak goreng dilakukan berdasarkan mekanisme resmi dan tidak bersifat bebas.

Menurutnya, hanya mitra atau pihak yang telah bekerja sama dengan Bulog yang dapat menyalurkan minyak goreng ke masyarakat.

“Yang boleh menyalurkan minyak itu adalah pihak yang sudah bekerja sama dengan Bulog. Jadi tidak semua bisa langsung menjual,” jelas Kartono. diruang kerjanya Kantor Bulog Cabang  Mamuju, 6/4/2026.

Ia menambahkan, seluruh proses distribusi wajib mengikuti aturan yang berlaku, termasuk melalui sistem pencatatan resmi seperti skema SPHP. Hal ini dilakukan untuk memastikan distribusi berjalan tertib, terkontrol, dan dapat dipantau oleh pihak terkait.

Terkait perbedaan distribusi yang terjadi di lapangan, Kartono menegaskan bahwa kondisi tersebut lebih disebabkan oleh keterbatasan stok, bukan karena adanya perlakuan berbeda.

Saat ini, kata dia, Bulog Mamuju belum menerima pasokan baru dari pusat. Stok yang tersedia pun sangat terbatas.

“Per hari ini stok yang tersisa sekitar 500 dos. Itu kami bagi rata ke kios-kios, masing-masing sekitar 10 dos supaya semua bisa kebagian,” ujarnya.

Dalam kondisi keterbatasan tersebut, Bulog Mamuju memprioritaskan penyaluran ke kios-kios yang berada di dalam pasar tradisional. Hal ini karena adanya pencatatan rutin dan pengawasan langsung dari tim di lapangan.

“Kami utamakan kios di pasar karena setiap hari ada pencatatan dan kunjungan. Jadi distribusinya bisa terkontrol,” terangnya.

Kartono juga mengakui bahwa sejumlah kios di luar pasar belum mendapatkan pasokan dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut hal tersebut sebagai dampak dari strategi prioritas distribusi di tengah stok yang terbatas.

“Kami mohon maaf, untuk kios di luar pasar memang belum bisa kami fasilitasi karena stok terbatas. Kami harus menjaga ketersediaan di pasar, apalagi menjelang dan setelah Lebaran,” ungkapnya.

Meski demikian, Bulog memastikan bahwa seluruh RPK tetap akan mendapatkan pasokan secara bertahap setelah stok kembali normal.

Kartono berharap distribusi minyak goreng dapat kembali merata dalam waktu dekat, seiring rencana masuknya pasokan baru dari pusat.

“Kalau pasokan sudah masuk lagi, kemungkinan dalam waktu dekat distribusi bisa lebih merata,” tutupnya.

By Adhie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *