Mamuju, Nuansainfo.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) menegaskan komitmennya dalam mewujudkan visi “Mamuju Keren” melalui transformasi sektor kelautan berbasis prinsip ekonomi biru. Langkah strategis ini menunjukkan kepemimpinan daerah dalam mendorong perubahan ekonomi yang berkelanjutan, dengan fokus pada penguatan sektor kelautan sebagai motor utama pembangunan. Melalui pendekatan yang lebih progresif, Pemkab Mamuju menggandeng akademisi nasional dan peneliti internasional untuk menjadikan daerah ini sebagai pusat pengembangan rumput laut berkelas dunia.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan strategis. Plt. Kepala DKP Kabupaten Mamuju, Muhammad Yusuf, menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintah kini berbasis data dan riset (evidence-based policy). Menurutnya, pendekatan ini menjadi fondasi penting agar setiap program benar-benar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir. Ia juga menekankan bahwa kebijakan tidak lagi disusun secara konvensional, melainkan berbasis riset yang kredibel, terukur, dan terintegrasi dengan perkembangan teknologi.
Dalam rangka mempercepat transformasi, Pemkab Mamuju menjalin kemitraan strategis dengan LPPM Universitas Hasanuddin serta jejaring riset internasional melalui program Partnership for Australia-Indonesia Research. Penelitian bertajuk “Strengthening Policy and Governance to Support the Circular Economy in the Seaweed Industry” yang dipimpin oleh Ambo Tuwo menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan industri rumput laut berbasis ekonomi sirkular. Kolaborasi ini melibatkan berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Hasanuddin, Institut Pertanian Bogor, Universitas Airlangga, hingga University of Queensland.
Secara geografis, Kabupaten Mamuju memiliki potensi besar dengan luas lahan budidaya rumput laut mencapai 8.927 hektare, dengan komoditas unggulan Eucheuma cottonii dan Gracilaria sp. yang kompetitif di pasar nasional. Namun, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti lemahnya sistem pencatatan produksi, menurunnya jumlah pembudidaya, serta belum berkembangnya industri pengolahan di tingkat lokal. Akibatnya, nilai tambah ekonomi selama ini lebih banyak dinikmati daerah lain. Melalui riset kolaboratif, pemerintah berupaya melakukan pembenahan menyeluruh, termasuk perbaikan sistem data, kebijakan anggaran, distribusi bantuan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Sebagai langkah strategis, Pemkab Mamuju mendorong hilirisasi agar rumput laut tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Berbagai inovasi produk seperti makanan olahan berbasis rumput laut terus dikembangkan di tingkat rumah tangga dan UMKM. Di sisi lain, pemerintah juga menyusun Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, serta memperkuat kapasitas SDM melalui pelatihan berbasis teknologi. Dengan dukungan riset, teknologi, dan kolaborasi global, Mamuju optimistis dapat menjadi pusat industri rumput laut terintegrasi yang modern, mandiri, dan berdaya saing tinggi
By ***











