LSM Masagena Kritik Seremonial Hari Kebangkitan Nasional: Jangan Hanya Slogan dan Spanduk!

Daerah130 Dilihat

Mamuju Tengah, Nuansainfo.com – Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Masagena, Sahdan Husain, melayangkan kritik keras terhadap pemaknaan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei. Menurutnya, momen bersejarah ini jangan sampai terjebak menjadi ritual seremonial tahunan belaka yang miskin esensi.

Sahdan menilai, di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan pembangunan fisik, bangsa Indonesia justru sedang menghadapi krisis moral dan kepedulian yang akut. Ketimpangan sosial yang melebar dan tumpulnya penegakan hukum menjadi potret buram yang harus segera dibenahi.

“Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak berhenti menjadi seremoni tahunan yang dipenuhi slogan dan spanduk. Kebangkitan yang sesungguhnya adalah ketika negara hadir dengan keberpihakan yang nyata kepada rakyat, ketika hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas,” ujar Sahdan Husain dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).

Sahdan juga menyoroti bagaimana pembangunan fisik saat ini belum diimbangi dengan pembangunan nilai-nilai kemanusiaan. Ia menyentil fenomena di mana banyak orang pintar dan berkuasa, namun minim kepedulian terhadap masyarakat kecil.

“Jalan bisa diperlebar, gedung bisa ditinggikan, tetapi jika kejujuran semakin runtuh dan kepedulian semakin hilang, maka sesungguhnya bangsa ini sedang berjalan tanpa arah,” tegasnya.

Soroti Ruang Kritik untuk Anak Muda

Lebih lanjut, LSM Masagena mendorong agar generasi muda diberikan porsi dan ruang yang lebih besar dalam menentukan arah kebijakan publik. Anak muda, kata Sahdan, jangan hanya dijadikan komoditas politik lima tahunan atau sekadar target pasar digital.

Ia mengingatkan pemerintah dan elite politik agar tidak antikritik terhadap suara-suara sumbang yang datang dari generasi muda, melainkan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.

“Kritik anak muda jangan dianggap ancaman, karena sejarah bangsa ini justru bergerak maju oleh keberanian generasi mudanya. Bangsa yang besar bukan bangsa yang bebas dari kritik, tetapi bangsa yang mampu menerima kritik sebagai bagian dari proses memperbaiki diri,” pungkas Sahdan.

Melalui momentum Harkitnas ini, LSM Masagena mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bangkit melawan musuh nyata zaman sekarang: kemiskinan, kebodohan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga sikap apatis yang mulai menggerogoti masa depan bangsa.

By Adhie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *