Mamuju, nuansainfo.com – Gagasan pembentukan Ikatan Alumni Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Mamuju (IKA HIPERMAJU) kian menguat sebagai wadah strategis bagi para perantau asal Mamuju. Tanah Manakarra yang dikenal sebagai Pembolongang Manurung Makkarama tidak hanya dipandang sebagai wilayah administratif, tetapi juga sebagai ruang hidup, ruang ingatan, dan ruang pengabdian yang mengikat masyarakatnya secara kultural.
Salah satu alumni Hipermaju, Muhammad Yusuf, S.H., M.H., menegaskan bahwa ikatan emosional masyarakat Mamuju tidak pernah terputus meskipun tersebar di berbagai daerah akibat dinamika daerah otonomi baru (DOB). Menurutnya, para perantau tetap membawa identitas dan nilai-nilai Mamuju di berbagai lini kehidupan, baik di dunia akademik, birokrasi, maupun profesional.
“Dari sanalah lahir kesadaran kolektif bahwa ikatan ini tidak boleh dibiarkan tanpa arah. Ia harus dilembagakan, diberi bentuk, dan dijaga secara bersama,” ujar Muhammad Yusuf.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa IKA HIPERMAJU tidak boleh dimaknai sekadar sebagai forum nostalgia, tetapi harus menjadi kekuatan peradaban yang berlandaskan nilai “Setto rasa, setto pappena’ding, mana’ di siolai”. Organisasi ini, kata dia, harus berdiri di atas tiga pilar utama, yakni sebagai simpul solidaritas antaralumni, pusat produksi gagasan, serta jembatan kaderisasi bagi generasi muda Mamuju di perantauan.
Selain itu, IKA HIPERMAJU diharapkan mampu menjaga independensi sekaligus membangun kemitraan yang setara dengan pemerintah daerah. Dengan program unggulan seperti Dana Abadi Pembolongang, mentorship karier, hingga digitalisasi jaringan alumni, organisasi ini diyakini dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah. “Pada akhirnya, ini adalah tentang bagaimana kita kembali mengikat masa depan Mamuju dalam satu rasa, menuju masyarakat yang maju dan sejahtera,” tutupnya.













