GUGURNYA PENJAGA GAWANG, BANGKITNYA PENJAGA BARU

mamuju47 Dilihat

Mamuju, nuansainfo.com – Kabar duka menyelimuti masyarakat Bumi Manakarra pada Kamis sore pukul 16.00 WITA. Seorang putra terbaik kelahiran 1 Oktober 1947 berpulang, meninggalkan jejak panjang sebagai penjaga budaya Mamuju. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan biasa, melainkan duka yang menghadirkan kekosongan mendalam, seolah sebagian identitas daerah ikut pergi bersamanya.

Almarhum dikenal sebagai “penjaga gawang” budaya—sosok yang berdiri di garis terdepan menjaga jati diri Mamuju dari arus perubahan zaman. Sebagai seorang *to Mana’*, ia memegang teguh filosofi Manakarra sebagai amanah yang harus dijaga hingga akhir hayat. Kini, setelah kepergiannya, muncul pertanyaan besar: siapa yang akan melanjutkan peran penting tersebut?

Semasa hidupnya, almarhum terus mengingatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi wadah nilai dan identitas. Namun realitas hari ini menunjukkan bahasa Mamuju mulai terpinggirkan, bahkan di rumah, sekolah, dan ruang publik. Ironisnya, generasi muda justru lebih akrab dengan budaya luar dibandingkan warisan leluhur sendiri.

Kesadaran untuk kembali mempelajari budaya Mamuju bagi banyak orang justru lahir dari pesan-pesan almarhum yang tegas dan menggugah. Teguran yang terasa keras itu menjadi titik balik bagi sebagian generasi untuk mulai menggali sejarah dan memahami jati diri. Meski terlambat, kesadaran ini menjadi langkah penting menuju perubahan.

Upaya pelestarian kini mulai menemukan bentuk nyata melalui program “Taki Maqbasa Mamuju” yang diinisiasi oleh Bupati Sitti Sutinah Suhardi. Program ini mendorong penggunaan bahasa Mamuju di rumah, sekolah, dan ruang publik, sekaligus menghadirkan pembelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal di tingkat pendidikan. Namun keberhasilannya tetap bergantung pada kesadaran dan partisipasi masyarakat.

Di tengah refleksi ini, masyarakat Mamuju dihadapkan pada kenyataan bahwa kebanggaan terhadap budaya belum sepenuhnya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Budaya sering kali hanya hadir dalam seremoni, bukan sebagai pedoman hidup. Kritik ini menjadi pengingat bahwa menjaga budaya adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah atau segelintir tokoh.

Kepergian sang penjaga gawang budaya harus menjadi titik kebangkitan. Duka ini perlu diubah menjadi gerakan nyata untuk menjaga bahasa, merawat budaya, dan memperkuat identitas. Mamuju bukan sekadar tempat, tetapi rumah jiwa yang harus dijaga bersama. Kini, tanggung jawab itu berada di pundak seluruh generasi untuk memastikan warisan budaya tetap hidup dan tidak hilang ditelan zaman.

By. Adhie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *