Susun Kekuatan SDM PKSS Sulbar, Dari Struktur ke Gerakan Perubahan

Mamuju, Nuasainfo.com – Rapat Pengisian SDM dan Penyusunan Struktur Organisasi DPW PKSS Sulbar Periode 2026–2032 bukan sekadar agenda administratif, tetapi momentum strategis untuk menentukan arah, marwah, dan daya tawar organisasi ke depan. Ini adalah rapat yang menandai peralihan dari sekadar “ada struktur” menuju “hidupnya gerakan”. Hal ini di sampaikan Dr. Andi Muhammad Yasin, M.Si

Dengan mandat Pimpinan Pusat yang telah menetapkan formatur dan memilih Ketua DPW H. Andi Toba, SH, Sekretaris Umum Dr. Andi Muhammad Yasin, M.Si, serta Bendahara Umum Hj. Fatmawaty, S.Sos, organisasi kini memasuki fase kerja nyata: melengkapi seluruh unsur SDM mulai dari Dewan Kehormatan, Dewan Penasehat, Unsur Pimpinan, hingga departemen-departemen.

Penegasan Ketua DPW PKSS Sulawesi Barat Mengatakan bahwa pengisian struktur harus berbasis keahlian personal adalah pesan penting.

Di sinilah PKSS menunjukkan kedewasaannya sebagai perkumpulan modern: profesional, terukur, dan tidak asal tunjuk.”

Lanjut “Lebih menarik lagi, telah ditunjuk prakarsa perintis DPD kabupaten di enam wilayah. Ini menandakan bahwa PKSS Sulbar tidak ingin tumbuh lambat dan sektoral, tetapi langsung menyentuh basis. Target pelantikan serentak DPD bukan hanya soal seremoni, melainkan simbol bahwa PKSS siap bergerak sebagai kekuatan kolektif, bukan sekadar elit struktural di tingkat provinsi.” Ujar Andi Toba

Dr. Andi Muhammad Yasin, M.Si. Sekertaris DPW PKSS Menyampaikan Usulan peserta rapat agar akhir Januari seluruh struktur sudah terinventarisasi dan terbit SK menunjukkan kesadaran bahwa organisasi tanpa target waktu akan kehilangan energi.

“Pendataan, inventarisasi, permintaan kesediaan, hingga kecocokan dengan bidang keahlian adalah proses yang harus digarap serius. Karena hanya dari SDM yang “klop” antara kapasitas dan amanah, organisasi bisa berlari, bukan sekadar berjalan.”

Lanjut “Kartu anggota pun menjadi isu penting. Ia bukan hanya kartu identitas, tetapi simbol legalitas, kebanggaan, dan rasa memiliki. Tanpa data keanggotaan yang rapi, PKSS akan sulit memetakan kekuatan riilnya. Organisasi modern hidup dari data, bukan hanya dari semangat.” Ujarnya

Masih ” Untuk memajukan PKSS Sulawesi Barat dalam mencapai tujuan organisasi, kita harus mampu menyusun program kerja yang inovatif, kreatif dan berdampak positif bagi masyarakat khususnya masyarakat Sulawesi Selatan diperantauan dan juga kita mesti memiliki tanggungjawab yang besar untuk terus menjaga dan mengembangkan organisasi ini agar tetap relevan dan bermanfaat bagi pengurus, anggota PKSS dan masyarakat sulawesi barat untuk itu senantiasa menjujung tinggi nilai-nilai luhur organisasi, serta bekerjasama dengan penuh semangat, dedikasi dan profesionalitas”  Tegasnya

Dr. Andi Muhammad Yasin Juga Menyampaikan konsep maksimalisasi organisasi per bidang: 7, 9, atau 11 orang dengan struktur Ketua, Sekretaris, dan Bendahara. Ini adalah bentuk disiplin organisasi agar setiap bidang benar-benar hidup, bekerja, dan terukur. Tidak gemuk, tidak kosong, tetapi proporsional dan produktif.

Penegasan bahwa PKSS berbeda dengan KKSS juga penting secara ideologis dan organisatoris. PKSS adalah perkumpulan kekerabatan Sulsel, yaitu perkumpulan aspiratif yang terbuka bagi siapa saja asal Suksek yang memiliki komitmen terhadap visi dan perjuangan PKSS. Di sinilah keunikan PKSS: tidak terjebak etnisitas, tetapi berdiri pada basis gagasan, kepemimpinan, dan penguatan peran publik.”

Lanjut “PKSS memiliki karakter khas: berafiliasi dalam memberi penguatan kepemimpinan bagi bupati, gubernur, DPRD, dan figur publik lainnya. Artinya, PKSS bukan organisasi pasif, melainkan mitra strategis kekuasaan yang konstruktif. Bukan oposisi yang gaduh, bukan pula pendukung yang membuta, tetapi kekuatan sosial yang memberikan dukungan berbasis potensi anggota.” Tegasnya

Dr. H. Muh Tahir, M.Si yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Mamuju Menyampaikan DPW PKSS Juga Mengaskan Jika semua persolan tersebut di selesaikan jika AD/ART dipahami bersama. Orientasi organisasi, pelatihan, pengkaderan, dan pencerahan menjadi keharusan.

Tanpa pemahaman visi-misi, PKSS hanya akan menjadi nama besar dengan kerja kecil. AD/ART harus hidup, bukan sekadar dokumen. Visi-misi harus menjadi napas gerakan, bukan sekadar teks di spanduk.”

Lanjut “Website dan profil organisasi juga tak kalah penting. Di era digital, eksistensi organisasi diukur dari jejak digitalnya. Website, pemberitaan, dan konten pengenalan PKSS akan menjadi wajah organisasi di ruang publik. Ditambah dengan kegiatan arisan, sebagai medium membangun keakraban dan rasa memiliki, PKSS menghadirkan pembeda yang unik: serius dalam gerakan, hangat dalam kebersamaan” Ucap Muh Tahir

Adanya figur DPRD, bupati, dan jejaring kekuasaan yang dekat dengan PKSS adalah modal sosial yang luar biasa. Ini bukan untuk membangun politik praktis sempit, melainkan untuk memfasilitasi kepentingan bersama anggota PKSS secara beradab dan terhormat. Di sinilah makna PKSS sebagai “perkumpulan bermarwah” dan “aspiratif”.

Andi Toba SH Menyampaikan pada saat Rapat tersebut menyampaikan ini sesungguhnya sedang menjahit masa depan PKSS Sulbar. Dari benang SDM, jarum visi, dan kain komitmen, diharapkan lahir organisasi yang bukan hanya kuat di struktur, tetapi hidup dalam kerja. Bukan hanya ramai saat pelantikan, tetapi konsisten dalam pengabdian.

“Jika semua gagasan rapat ini diwujudkan dengan disiplin, PKSS Sulbar periode 2026–2032 berpotensi menjadi contoh bagaimana organisasi perkumpulan daerah bisa tampil modern, inklusif, berdaya tawar tinggi, dan bermartabat. Bukan sekadar ada, tetapi bermakna” tutup Ketua DPW PKSS

By. Adhie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *