Mamuju, nuansainfo.com – Rencana tambang logam tanah jarang (rare earth elements/REE) di wilayah Mamuju mulai menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Pemerhati Sulawesi Barat, Supriadi, mengingatkan warga agar lebih waspada terhadap dampak yang bisa ditimbulkan, terutama bagi lingkungan dan kehidupan sehari-hari, hal ini disampaikan di salah satu warkop di Mamuju 16/4/2026
Menurutnya, yang dipertaruhkan bukan hanya tanah, tetapi juga sumber air, kesehatan, dan masa depan masyarakat.
“Kalau hutan dibuka dan tanah digali, yang pertama terdampak itu air. Kalau air sudah tercemar, kita semua akan merasakan dampaknya, mulai dari sulitnya air bersih sampai gangguan kesehatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa banyak daerah di Indonesia yang sebelumnya kaya sumber daya, justru mengalami kerusakan setelah masuknya tambang. Lahan pertanian hilang, air menjadi keruh, dan masyarakat kesulitan mempertahankan kehidupan mereka.
“Jangan sampai kita mengalami hal yang sama. Kita harus belajar dari daerah lain,” katanya.
Supriadi juga menekankan bahwa menjaga ruang hidup bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama sebagai masyarakat.
“Ruang hidup itu tempat kita makan, minum, dan membesarkan keluarga. Kalau itu rusak, kita tidak punya apa-apa lagi,” jelasnya.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan berani menyuarakan pendapat jika merasa ada ancaman terhadap lingkungan sekitar.
“Kalau kita diam, kita yang akan merasakan dampaknya. Tapi kalau kita bersama-sama menjaga, kita masih punya kesempatan mempertahankan masa depan,” tambahnya.
Menurutnya, pembangunan memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan kehidupan masyarakat.
“Pembangunan yang baik itu yang menjaga alam dan manusia tetap aman. Bukan yang merusak lalu meninggalkan masalah,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Supriadi berharap masyarakat Sulawesi Barat bisa lebih sadar bahwa lingkungan yang sehat adalah kunci kehidupan.
“Air bersih, tanah subur, dan udara yang sehat itu jauh lebih berharga dari apa pun. Itu yang harus kita jaga bersama,” tutupnya.
By Adhie







