Mamuju, nuansainfo.com – Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menggelar musyawarah daerah yang melibatkan tiga kabupaten di Sulawesi Barat, yakni Mamuju, Mamuju Tengah, dan Pasangkayu. Kegiatan ini berlangsung di Grand Park D’Maleo Hotel Mamuju 22/4/2026.

Musyawarah tersebut dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat, sebagai upaya memperkuat organisasi sekaligus merumuskan program strategis bagi petani kelapa sawit di wilayah Sulawesi Barat.
Ketua SPKS Nasional, Sabaruddin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada panitia pelaksana atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi forum organisasi, tetapi juga dirangkaikan dengan workshop hilirisasi UMKM kelapa sawit.
“Walaupun SPKS di Sulawesi Barat tergolong baru, perjalanan organisasi ini sudah panjang. SPKS lahir dari para aktivis lingkungan dan tokoh-tokoh yang fokus pada sektor sawit, dan kini telah hadir di 22 kabupaten,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran SPKS di Sulawesi Barat, mengingat sektor kelapa sawit menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan adanya program biodiesel, harga sawit diperkirakan akan terus meningkat, sebagaimana yang terjadi di Riau dan Jambi yang telah mencapai kisaran Rp4.000 per kilogram.
“Ini menjadi tugas SPKS untuk memberikan edukasi kepada petani, mulai dari perawatan tanaman hingga penguatan kemitraan di tingkat desa melalui gapoktan, koperasi, dan kelompok tani,” tambahnya.
Di Kabupaten Pasangkayu, telah terdapat koperasi yang memiliki sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), yaitu standar internasional untuk memastikan pengelolaan kelapa sawit dilakukan secara berkelanjutan, ramah lingkungan, dan memperhatikan aspek sosial serta ekonomi petani.

Sementara itu, Ketua SPKS Mamuju menyampaikan bahwa organisasi tersebut telah hadir selama empat tahun di wilayahnya. Ia berharap kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran SPKS dalam mendampingi petani, termasuk dalam hal penetapan harga dan pengembangan sektor sawit.
Supriadi juga menambahkan rencana pembentukan pengurus di tingkat kecamatan guna memperluas jangkauan organisasi. Ia berharap dukungan dari SPKS Nasional untuk menghadirkan program-program strategis yang mampu memberikan perlindungan dan penguatan bagi petani.

Ketua SPKS Pasangkayu, Sofyan, dalam sambutannya menyebutkan bahwa sekitar 50 persen komoditas pertanian di Sulawesi Barat berada di wilayahnya. Ia berharap SPKS dapat menjadi wadah yang benar-benar mengakomodasi kepentingan masyarakat, bukan sekadar lembaga kritik terhadap pemerintah. Pasangkayu sendiri menjadi salah satu pelopor penerapan sertifikasi RSPO di daerah tersebut.

Di sisi lain, Ketua SPKS Mamuju Tengah, Irfan, mengakui bahwa perannya selama ini belum maksimal karena juga menjabat sebagai Dewan Penasehat SPKS Sulawesi Barat. Ia berharap melalui musyawarah ini akan terbentuk kepengurusan baru yang lebih fokus dan optimal dalam menjalankan tugas serta tanggung jawab organisasi.
Kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan keputusan strategis guna memperkuat kelembagaan petani sawit serta mendorong peningkatan kesejahteraan melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan berdaya saing
By Adhie







