Muhlis Soroti Respons Aparat Saat Aksi PMII di Kejati Sulbar: Polisi Diminta Pahami Simbolik Gerakan Massa

Sulawesi Barat258 Dilihat

Mamuju, Nuansainfo.com –  Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Mamuju, Muhlis, menyoroti respons aparat kepolisian saat berlangsungnya aksi demonstrasi mahasiswa di depan kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Barat. 7/5/2026

Menurut Muhlis, keributan yang sempat terjadi dalam aksi tersebut dipicu karena aparat dinilai belum memahami makna simbolik dalam gerakan demonstrasi mahasiswa, khususnya saat massa melakukan aksi pembakaran ban di tengah penyampaian tuntutan.

Muhlis menjelaskan bahwa dalam kultur gerakan mahasiswa di Indonesia, membakar ban bukan sekadar tindakan spontan ataupun bentuk anarkisme, melainkan simbol perlawanan terhadap persoalan yang dianggap sudah sangat mendesak dan tidak lagi mendapat perhatian serius dari pihak berwenang.

“Kami memandang aparat kepolisian belum memahami simbol dalam gerakan aksi mahasiswa. Pembakaran ban dalam demonstrasi bukan semata-mata tindakan anarkis, tetapi bentuk simbolik dari perlawanan, kemarahan, dan akumulasi kekecewaan rakyat terhadap persoalan yang dianggap tidak kunjung diselesaikan,” ujar Muhlis.

Ia menambahkan, api dan kepulan asap hitam dalam aksi demonstrasi memiliki makna bahwa situasi yang diperjuangkan sudah berada pada titik genting dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah maupun aparat penegak hukum.

“Api dan asap hitam itu melambangkan bahwa persoalan yang kami suarakan sudah panas, genting, dan tidak bisa lagi didiamkan. Itu adalah simbol bahwa masyarakat sedang marah dan menuntut keadilan. Jadi aparat juga perlu memahami bahwa dalam gerakan mahasiswa ada simbol-simbol perjuangan yang memiliki makna tersendiri,” lanjutnya.

Muhlis juga berharap aparat kepolisian ke depan dapat lebih mengedepankan pendekatan humanis dan dialogis saat mengawal aksi demonstrasi, sehingga tidak mudah terjadi gesekan antara massa aksi dan petugas keamanan.

Menurutnya, demonstrasi merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin dalam negara demokrasi, sehingga aparat dan mahasiswa seharusnya dapat saling memahami posisi masing-masing demi menjaga situasi tetap kondusif.

“Kami berharap kepolisian dapat memahami simbolik gerakan tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan. Ketika aparat memahami makna aksi, maka pengamanan demonstrasi bisa berjalan lebih humanis tanpa memicu ketegangan yang sebenarnya tidak perlu terjadi,” tutup Muhlis.

By. Adhie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *