Muh. Arifain Makkulau, SH., MH.,: Penguatan Rantai Pasok Lokal Kunci Sukses Program MBG

Sulawesi Barat98 Dilihat

Mamuju, nuansainfo.com – Ketua DPD I Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) Sulawesi Barat, Muh. Arifain Makkulau, SH., MH., menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki potensi besar menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah apabila didukung penguatan rantai pasok pangan lokal yang berkelanjutan.

Menurutnya, program MBG tidak seharusnya dipandang semata sebagai layanan pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan ekonomi kerakyatan yang mampu melibatkan petani, peternak, pelaku UMKM, hingga distributor lokal.

“MBG ini memiliki efek ekonomi yang sangat besar. Karena itu, rantai pasoknya harus dibangun dari daerah sendiri agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat lokal,” ujar Muh. Arifain.

Ia menjelaskan, konsep tersebut mulai dipraktikkan oleh sejumlah mitra SPPG di Sulawesi Selatan, di antaranya SPPG MACCORAWALIE 05 dan SPPG PEKKABATA 02, yang membangun pola kemitraan langsung dengan pemasok lokal guna menjaga kesinambungan pasokan bahan baku.

Menurut Arifain, langkah tersebut menjadi contoh penting bagaimana program MBG dapat menciptakan perputaran ekonomi baru di daerah.

“Ketika kebutuhan dapur dipenuhi oleh petani lokal, peternak lokal, dan UMKM lokal, maka dana negara yang masuk melalui MBG tidak keluar daerah, melainkan terus berputar di tengah masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya para mitra SPPG mempersiapkan sistem rantai pasok yang profesional dan terintegrasi. Upaya tersebut meliputi:

  1. kontrak pasokan jangka panjang,
  2. penguatan kapasitas gudang penyimpanan,
  3. pengelolaan stok bahan baku,
  4. hingga pengembangan cold storage sederhana.

Menurutnya, stabilitas pasokan merupakan faktor utama dalam menjaga kualitas layanan sekaligus menjamin keberlanjutan program dalam jangka panjang.

Selain itu, Muh. Arifain mendorong para mitra SPPG untuk mulai memikirkan hilirisasi pangan daerah melalui pengembangan usaha pengolahan bahan baku lokal.

“Ke depan kita tidak boleh hanya menjadi pasar konsumsi. Sulawesi Barat harus mampu menjadi pusat produksi pangan nasional berbasis kebutuhan MBG,” tegasnya.

Ia optimistis, apabila ekosistem tersebut dibangun secara konsisten, program MBG akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan lapangan kerja, pertumbuhan UMKM, penguatan sektor pertanian, serta peningkatan daya beli masyarakat.

Muh. Arifain juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, koperasi, hingga sektor perbankan, untuk bersama-sama memperkuat rantai pasok lokal demi menjaga keberlanjutan program MBG nasional.

“Ini bukan hanya program makan bergizi. Ini adalah peluang besar untuk membangun kemandirian ekonomi daerah dan masa depan pangan nasional,” tutupnya

By. Adhie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *