Mamuju, Nuansainfo.com – Ambisi besar hilirisasi industri di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, kini tengah berada di persimpangan jalan yang krusial. Di balik kilau potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) yang digadang-gadang sebagai ‘harta karun’ penggerak ekonomi masa depan, tersimpan ancaman mematikan dari unsur radioaktif: Uranium dan Thorium.
Kedua unsur berbahaya tersebut diketahui menyatu erat dalam satu lapisan tanah yang sama dengan LTJ. Hal ini memicu kekhawatiran besar terkait keselamatan warga dan masa depan lingkungan di Mamuju.
Narasumber sekaligus pengamat lingkungan, Hardianto, mengingatkan pemerintah dan pelaku industri agar tidak gegabah. Menurutnya, mengekstrak LTJ sama saja dengan membongkar bom waktu radioaktif yang selama ini tertimbun.
“Mengekstrak LTJ di Mamuju itu artinya kita juga membongkar unsur radioaktif. Tanpa adanya teknologi separasi (pemisahan) yang benar-benar mumpuni, limbah beracun ini akan menjadi ancaman permanen bagi keselamatan warga dan lingkungan sekitar,” ujar Hardianto saat dihubungi, Jumat (15/5/2026).
Hardianto juga menyoroti regulasi dan kesiapan investasi di sektor ini. Ia menegaskan bahwa hilirisasi yang hanya mengejar keuntungan semata tanpa menerapkan standar keamanan nuklir yang ketat adalah sebuah kesalahan besar.
“Jangan sampai hilirisasi ini hanya mengejar profit, tapi abai terhadap standar keamanan nuklir. Jika itu terjadi, ini adalah bentuk ‘bunuh diri’ lingkungan yang nyata,” tegasnya.
Lebih lanjut, Hardianto mendesak pemerintah untuk bersikap jujur dan terbuka kepada publik mengenai risiko nyata dari paparan radiasi di wilayah eksploitasi. Menurutnya, keterbukaan informasi adalah kunci agar proyek ini tidak berubah menjadi petaka.
“Pemerintah dituntut jujur mengenai risiko paparan radiasi ini. Jangan sampai eksploitasi LTJ justru membuka ‘Kotak Pandora’ yang menghancurkan Mamuju demi memuaskan ambisi industri global,” kata Hardianto.
Pada akhirnya, Hardianto menekankan bahwa kemajuan ekonomi suatu daerah tidak boleh mengorbankan hak hidup sehat masyarakatnya. Kedaulatan kesehatan harus tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar-tawar.
“Intinya, kemajuan ekonomi tidak boleh dibayar dengan kedaulatan kesehatan. Hilirisasi di Mamuju harus dilakukan dengan kehati-hatian ekstrem, atau tidak sama sekali jika keselamatan rakyat belum terjamin,” cetusnya.
Ia menutup dengan sebuah peringatan keras bagi para pemangku kebijakan agar berpikir panjang demi generasi mendatang.
“Simpulannya sederhana: jangan sampai kita sibuk mengejar harta karun teknologi hari ini, namun justru mewariskan tanah yang terkontaminasi radiasi bagi anak cucu kita kelak,” pungkas Hardianto.












