Mamuju, nuansainfo.com – Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Barat, Munandar Wijaya, S.IP., M.A.P., memberikan catatan kritis terkait pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Sulawesi Barat. Menyikapi aspirasi masyarakat yang masuk ke parlemen, Munandar mendesak Koordinator Pelaksana MBG untuk lebih tegas dalam memastikan program ini berjalan sesuai tujuan awal, yakni peningkatan kualitas SDM dan penguatan ekonomi lokal.
Pastikan Standar Gizi Harian Terpenuhi
Menurut Munandar, esensi utama dari program ini adalah perbaikan gizi. Ia menegaskan bahwa pelaksanaan di lapangan tidak boleh sekadar “asal kenyang”, melainkan harus memenuhi standar gizi harian yang telah ditetapkan secara medis dan regulasi.
“Kami di Komisi II menekankan agar koordinator pelaksana benar-benar mengawasi kualitas makanan. Jangan sampai ada ketimpangan standar di berbagai daerah. Kebutuhan gizi harian anak-anak kita harus sesuai standar kesehatan, karena ini menyangkut masa depan generasi Sulbar,” tegas Munandar. 3/5/2026.
Gerakkan Ekonomi Lokal Melalui UMKM dan Petani
Lebih lanjut, Munandar menyoroti potensi ekonomi besar di balik program MBG. Ia meminta regulasi pelaksanaan diperjelas agar seluruh bahan baku makanan—mulai dari beras, sayuran, telur, hingga daging—wajib bersumber dari potensi lokal.
Beberapa poin penekanan Munandar meliputi:
-
Optimalisasi UMKM: Melibatkan pelaku usaha lokal dalam proses pengolahan dan distribusi.
-
Serapan Hasil Pertanian: Mewajibkan penyedia jasa mengambil bahan baku langsung dari petani dan peternak di Sulawesi Barat.
-
Regulasi yang Jelas: Meminta adanya payung hukum atau aturan teknis yang menjamin keterserapan produk lokal agar dana program ini berputar di masyarakat Sulbar sendiri.
Pengawasan Ketat di RDPU
Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang digelar DPRD Sulbar pada Kamis (5/3). Munandar berharap melalui rapat tersebut, pemerintah provinsi melalui dinas terkait dapat memaparkan skema yang transparan.
“Program ini harus menjadi stimulus ekonomi. Kita tidak ingin bahan bakunya justru didatangkan dari luar daerah, padahal petani dan peternak kita mampu menyediakannya. Koordinator harus tegas soal ini: MBG sukses gizinya, sukses juga ekonomi lokalnya,” pungkasnya.
By Adhie







