Ketegangan Global Meningkat, GMNI Mamuju Kritik Pengalihan Fokus TNI ke Urusan Sipil

Sulawesi Barat116 Dilihat

Mamuju, Nuansainfo.com – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kian memanas. Situasi yang diwarnai peningkatan aktivitas militer dan aksi saling ancam ini memicu kekhawatiran dunia akan pecahnya konflik terbuka yang berpotensi menjadi krisis global.

Menanggapi situasi geopolitik yang rawan tersebut, Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Mamuju, Dicky Wahyudi, melontarkan kritik keras terhadap arah kebijakan pertahanan pemerintah Indonesia. Ia menilai, di tengah ketidakpastian dunia, pemerintah justru terlihat kurang fokus dalam memperkuat kesiapan pertahanan nasional.

TNI Terlalu “Sibuk” di Luar Fungsi Utama

Dicky menyoroti fenomena Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang belakangan ini kerap dilibatkan dalam urusan-urusan di luar fungsi utamanya sebagai alat pertahanan negara.

“Ketika dunia berada dalam situasi rentan konflik besar, pemerintah seharusnya memastikan TNI fokus pada penguatan pertahanan. Namun yang kita lihat sebaliknya, TNI terlalu banyak ditarik ke urusan sipil,” tegas Dicky dalam keterangannya, Sabtu (07/03).

Salah satu yang menjadi sorotan tajamnya adalah keterlibatan personel militer dalam berbagai program sipil, termasuk persoalan terkait KDKMP. Menurut Dicky, keterlibatan yang berlebihan dan rutin dalam ranah non-militer dapat mendistorsi fokus strategis institusi.

Desak Evaluasi dan Modernisasi Alutsista

Dicky mengingatkan bahwa komitmen politik luar negeri Indonesia yang “Bebas Aktif” tidak akan cukup tanpa dibarengi dengan kekuatan militer yang profesional dan siap tempur. Ia menekankan tiga poin utama yang seharusnya menjadi prioritas negara saat ini:

  1. Modernisasi Alutsista: Memperbarui alat utama sistem senjata agar relevan dengan ancaman modern.

  2. Peningkatan Kemampuan Tempur: Mengasah skill prajurit secara intensif.

  3. Penguatan Doktrin Pertahanan: Menegaskan kembali peran TNI sebagai pelindung kedaulatan di garis depan.

“Perdamaian tidak cukup hanya dengan retorika diplomasi, tapi membutuhkan kekuatan pertahanan yang terlatih. Negara tidak boleh lengah; mengabaikan fungsi utama TNI sama saja mempertaruhkan kesiapan bangsa menghadapi ancaman global yang bisa datang kapan saja,” pungkasnya.

By Adhie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *