oleh

Jika Benar Fahmi Mundur, Beliau Adalah Pemimpin Kesatria

Penulis : Akbar

SEBAIKNYA memang politik itu tetap mengedepankan rasionalitas dan fairness (kejujuran) ketimbang ambisius untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan meskipun dalam kondisi tidak MAMPU.

Mampu dalam pengertian kapasitas, integritas, teruji tidak punya prestasi, atau karena sakit. Semua pihak terutama bakal calon, sebaiknya tetap memberikan teladan politik bahwa menjadi seorang Pemimpin itu bukan urusan sederhana alias mudah.

“Melainkan teramat sulit karena harus mampu menjadi solusi dan jawaban atas kompleksitas persoalan di tengah masyarakat”.

Jiwa dan raga harus didesikasikan bahkan diwakafkan untuk mewujudkan kesejhateraan masyarakat. Ketika seseorang ditetapkan menjadi pemimpin, maka dia bukan lagi menjadi milik privace isteri, anak, orang tua dan keluarga tetapi menjelma menjadi milik rakyat sejumlah penduduk yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, kepemimpinan harus diletakkan dalam kerangka kerja keras, sungguh2, sepenuh waktu dan hati demi melayani masyarakat. Kepemimpinan membutuhkan sosok yang sehat secara rohani dan kuat sehat fisik karena ia akan dan sedang ditunggu rakyat di setiap waktu dan di semua tempat bahkan pinggir2 desa dan kampung untuk hadir mendengar, melihat, merasakan dan mengeksekusi segala persoalan yabg tengah dihadapi masyarakat. Artinya Kepemimpinan akan menyedot energy besar demi memenuhi ekspektasi publik.

Pilihan Fahmi Massiara mundur dalam pertarungan karena sakit (jika benar), adalah bukti bahwa beliau memiliki dimensi kesadaran, kearifan dan kebijksanaan dalam memandang posisi atau relasi kekuasaan dan perjuangan kesejahteraan rakyat. Salut…!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed