Mamuju, nuansainfo.com – Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat memaparkan perkembangan perekonomian terkini dalam kegiatan SIPAKADA Media (Sinergi dan Kolaborasi dengan Media dalam rangka Diseminasi Perekonomian Terkini), Selasa (18/2/2026).
Dalam paparannya, Bank Indonesia menyampaikan bahwa perekonomian Sulawesi Barat menunjukkan kinerja yang solid dan tetap resilien di tengah dinamika ekonomi global dan nasional. Pada triwulan IV 2025, ekonomi Sulawesi Barat tumbuh sebesar 6,55 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,39 persen (yoy).
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat terutama ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan, serta administrasi pemerintahan. Peningkatan produksi padi, tandan buah segar (TBS) sawit, serta subsektor peternakan menjadi faktor utama pendorong sektor pertanian. Sementara itu, sektor perdagangan tumbuh seiring meningkatnya aliran komoditas dari sektor perkebunan dan pertanian tanaman pangan.
Namun demikian, Bank Indonesia juga mencatat adanya beberapa faktor penahan pertumbuhan, terutama pada sektor industri pengolahan dan konstruksi. Perlambatan permintaan ekspor turunan CPO serta penurunan realisasi belanja modal pemerintah berdampak pada kontraksi sektor konstruksi di akhir 2025.
Inflasi Sulbar Masih Terkendali
Dari sisi harga, Provinsi Sulawesi Barat pada Januari 2026 mengalami inflasi sebesar 0,71 persen (month to month/mtm) dan 4,34 persen (yoy). Inflasi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah, seiring normalisasi pasokan dari daerah sentra produksi.
Sementara itu, beberapa komoditas seperti ikan laut dan emas perhiasan justru memberikan andil deflasi, dipengaruhi oleh kondisi cuaca laut serta dinamika harga emas global. Data inflasi ini bersumber dari Badan Pusat Statistik.
Stabilitas Sistem Keuangan Tetap Terjaga
Bank Indonesia juga melaporkan bahwa stabilitas sistem keuangan di Sulawesi Barat tetap terjaga. Pertumbuhan kredit pada triwulan IV 2025 tercatat 6,87 persen (yoy), didorong oleh kredit rumah tangga yang tumbuh stabil. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) berada pada level yang relatif aman dan terkendali.
Di sisi lain, Bank Indonesia menyoroti perlunya penguatan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di daerah, mengingat rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) Sulawesi Barat masih berada pada level tinggi, yang menunjukkan ketergantungan pembiayaan dari luar wilayah.
Proyeksi Ekonomi Sulbar 2026
Untuk tahun 2026, ekonomi Sulawesi Barat diproyeksikan tumbuh pada kisaran 5,0 hingga 6,1 persen, lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada rentang 4,9 hingga 5,7 persen. Sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan diperkirakan tetap tumbuh positif, meskipun dengan kecenderungan melandai.
Sementara itu, sektor konstruksi dan administrasi pemerintahan diproyeksikan mengalami peningkatan, seiring rencana pembangunan infrastruktur strategis seperti jalan daerah, bendungan Budong-Budong, serta penambahan formasi ASN dan PPPK.
Komitmen BI Dukung Pertumbuhan dan Kendalikan Inflasi
Melalui kegiatan SIPAKADA Media, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan media dalam menjaga stabilitas ekonomi, mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, serta mengendalikan inflasi daerah.
Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari penguatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pengembangan UMKM dan ekonomi syariah, hingga kampanye Gerakan Bersama Jaga Inflasi (GERAI) menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah
By. Adhie.









