Mamuju, nuansainfo.com – Tindakan represif berupa pelarangan peliputan terhadap sejumlah awak media dalam agenda evaluasi Program Strategis Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Hotel d’Maleo Mamuju, memicu reaksi keras dari aktivis kemasyarakatan. LSM Merdeka Manakarra Sulawesi Barat secara resmi menyampaikan kecaman atas insiden tersebut, hal ini disampaikan di salah satu warkop Mamuju, 30/4/2026
Ketua LSM Merdeka Manakarra, Andika, menegaskan bahwa peran media sangat sentral dalam proses pengawasan dan pemantauan program nasional, terutama MBG yang menjadi atensi besar masyarakat di Sulawesi Barat. Menurutnya, jika media justru dihalang-halangi, maka patut timbul kecurigaan publik terkait transparansi pelaksanaan program tersebut.
“Peran media sangat sentral dalam proses pemantauan program MBG, khususnya di Sulbar. Jika terjadi hal demikian (pengusiran), maka patut dipertanyakan. Ada apa? Kunjungan Dirtawas di Mamuju ini jadi patut dipertanyakan tujuan dan transparansinya,” tegas Andika dalam keterangan persnya, Kamis (30/4/2026).
Desak Teguran dari Dewan Pers
Andika menilai sikap panitia yang memberikan kesan tertutup dalam kunjungan pejabat Badan Gizi Nasional (BGN) tersebut merupakan langkah mundur bagi demokrasi dan kebebasan pers di Sulawesi Barat. Ia mendesak otoritas terkait untuk segera mengambil tindakan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami mendesak Dewan Pers agar segera menegur pihak BGN yang memperlakukan rekan-rekan media seperti itu. Kesannya sangat tertutup dalam kunjungan ini, seolah-olah ada yang disembunyikan dari pantauan publik,” lanjutnya.
Sebagai representasi dari masyarakat sipil, LSM Merdeka Manakarra menyatakan tidak akan tinggal diam melihat fungsi jurnalistik dikebiri, apalagi dalam mengawal program yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak.
“Tentu kami dari masyarakat sipil lagi-lagi mengecam keras tindakan tersebut. Media adalah mata dan telinga masyarakat. Jika mereka diusir, berarti hak publik untuk tahu juga sedang dikebiri,” pungkas Andika
By. Adhie







