oleh

2 Desa Di Malunda Menolak Rehab Bendungan Kayuangin, Ada Apa?

MAJENE,NUANSAINFO.COM _ Beberapa waktu lalu, 2 desa di kecamatan malunda dihebohkan dengan jebolnya bangunan bendungan irigasi, dikarenakan tidak bisa menahan derasnya aliran air sungai kayuangan. Akibatnya masyarakat bersama pemerintah setempat mengeluarkan pernyataan penolakan untuk rehab bangunan tersebut.

Saat di konfirmasi Kepala Desa ( Kades ) Kayuangin Muhammad Yusuf mengatakan, pihaknya sudah ada pernyataan bersama penolakan pembangunan sementara bendungan irigasi ditandai dengan dukungan paraf sejumlah tokoh masyarakat dan masing – masing BPD ditujukan ke Pemerintah Kecamatan Malunda tertanggal 15 Juni 2020.

“Saya sudah mengirim surat ke kantor Camat Malunda. Surat itu adalah surat pernyataan bersama penolakan perbaikan sementara bendungan Kayuangin. Penolakan ini bukan hanya desa kami tetapi juga Desa Lombong Timur.” kata Kades Kayuangin, Yusuf kepada media. Jumat ( 19 Juni 2020)

Dalam penolakan pembangunan bendungan Kayuangin oleh Dua desa, disebutkan beberapa poin melalui surat yang dikirim ke kantor camat Malunda diantaranya.

  • Menghentikan pembangunan atau perbaikan bendungan Kayuangin yang sifatnya sementara.
  • Jalanan rusak yang di lalui pihak kontraktor tidak diperbaiki setelah pekerjaan selesai.
  • Masyarakat Desa Kayuangin merasa resah dan khawatir dengan keadaan bendungan yang sudah dilakukan perbaikan berulang kali namun masih terjadi kerusakan atau jebol akibatnya masyarakat yang menggantungkan hidup dan aktivitas di sungai merasa terganggu.
  • Masyarakat mengharapkan penghentian penambangan yang dilakukan pihak balai dan kontraktor karena dianggap merusak alam.
  • Tidak adanya manfaat bagi masyarakat sekitar karena banyaknya saluran irigasi bendungan yang tidak di aliri air, dan retak. Di hawatirkan runtuh dan bisa menimpa masyarakat yang lewat.
  • Masyarakat merasa bahwa bendungan tersebut dibangun tidak manfaatnya bagi masyarakat petani jika perbaikan
  • bendungan hanya sifatnya sementara.Masyarakat menginginkan bendungan dibangun kembali dengan maksimal bukan di rehab atau di tambal.

” itu beberapa poin alasan penolakan dalam surat kami sebagai warga Kayuangin dan Desa Lombong Timur. Kami berharap pemerintah kecamatan bisa melihat dengan kondisi saat ini, ” jelas Yusuf

Dihubungi terpisah soal adanya penolakan pembangunan sementara bendungan Kayuangin pasca jebol, Camat Malunda Salahuddin mengaku, hingga saat ini belum menerima surat dari paarat desa tentang pernyataan sikap pembangunan sementara bendungan irigasi.

”Sampai saat ini belum ada saya liat itu. tetap saya sebagai pemerintah kecamatan tentu jugas saya tidak tinggal diam dan saya sudah laporkan ke PUPR Kabupaten Majene untuk meneruskan ke pihak balai. Saya belum tau informasi selanjutnya yang pastinya kami sebagai pemerintah kecamatan selalu pantau”. kata Camat Malunda, Salahuddin

Menurut mantan Lurah Malunda itu, pasca jebolnya bendungan Kayuangin, sangat terdampak bagi masyarakat pertani. Ratusan hekatar persawahan tidak teraliri dan saat ini jika ingin menggarap sawahnya harus mengandalkan tadah air hujan.

” Saat ini petani yang kena dampakya pasca jebolnya bendungan Kayuangin, ya tentu saat ini petani harus merasakan lagi air tadah hujan jika ingin menggarap sawahnya, ” tutur Salahuddin
Dia menambahkan, dari inforamsi yang didapat oleh pemerintah Kecamatan Malunda, bahwa akibat kerusakan bendungan Kayuangin yang terjadi di bulan Februari 2020, diduga ditengarai adanya lobang dibagian bawah hingga mengalami patah dibagian tengah sehingga debet air yang Jutaan kubik tidak bisa terbendung dan meluber keluar. Kuncinya (Rls)

Editor: Nuansainfo.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed